Minggu, 02 Maret 2025

Buka Hati

Di waktu yang larut, aku masih terjaga. Mengepalkan tangan sembari mengucapkan kalimat-kalimat magis yang ku hantarkan untuknya.
Untuk dirinya seseorang yang baru dan biasa, namun mampu mendatangkan letupan-letupan hangat di hati ini.

Entah sudah berapa lama aku memelihara kekosongan di hidup ku.
Entah sudah beberapa musim aku memanen kesendirian ku ini.
Rasanya, aku tak memiliki alasan untuk memulai kembali untuk jatuh hati.
Rasanya, aku tak cukup perlu untuk kembali memperhatikan seseorang selain diriku sendiri.

Hingga cahaya yang membawa kehangatan itu pun datang, menyadarkan aku dari kegelapan dan keterpurukkan akan cinta yang telah lalu.
Katanya, aku masih bisa mencintai.
Katanya, aku masih bisa dicintai (tanpa tapi).
Katanya, aku masih layak untuk diinginkan.
Katanya, aku masih berhak untuk menginginkan.

Semua ia ucapkan begitu lugas, tanpa aba-aba ia tunjukkan kurang lebihnya kesempurnaan rasa yang ia miliki untukku.
Perlahan namun pasti, ia membantu ku untuk melumat seluruh rasa ketidakkeyakinan ini.
Ia rapalkan do'a yang penuh keajaiban, untukku dan untuk nya. Untuk kita, katanya.

Lagi dan lagi, bertubi-tubi ia tunjukkan penawar racun dari luka dan sakitku ini.
Ku kira, aku takkan pernah bisa merasakan hal-hal yang ajaib ini.
Aku pun mengira, bahwa rasa dihati ini sudah tewas terbawa kenangan yang telah lalu.
Bagaimana bisa seorang wanita yang biasa membawa luka lebam kemana pun ia pergi, dipertemukan dan bertemu dengan seorang pria yang bersikukuh akan dapat membahagiakan si wanita malang ini?
Sungguh konyol, bukan? 

Ku coba segala cara, untuk tetap sadar.
Sungguh takut mengartikan rasa manis yang ia bawa dan suguhkan untukku.
Aku takut terjatuh dan merawat luka sendiri lagi.
Walau di satu sisi dan di relung hati terdalam, aku sudah menginginkannya untuk selalu ada didekat ku dan bersamaku, hingga akhir waktu.

Wahai hatiku, bisakah engkau meyakini bahwa cinta akan selalu menemukan?
Wahai diriku, bisakah engkau meyakini bahwa tak ada salah dalam kata cinta?
Wahai hatiku, bisakah engkau meyakini bahwa cinta akan selalu setia?
Wahai diriku, bisakah engkau meyakini bahwa selalu ada percaya dalam kata cinta?
Tanpa perlu ada rasa kecewa lagi dan lagi.

Duhai semesta, tolong beri aku pertanda, haruskah aku membuka hati untuknya?
Mempersilakan ia masuk dan menetap selamanya.
Jika memang ia yang terbaik dan terpantas untuk ku, mohon beri jalan dan jawaban untuk diriku pun dirinya.
Sehingga tercipta dua hati yang saling menjaga hati. Yang sangat berhati-hati untuk tidak saling menyakiti dan selalu berjanji, bahwa hanya akan ada dua hati yang bersatu untuk saling melengkapi dan mencintai.
Cukup aku dan dirinya.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar