Sabtu, 07 Februari 2015

Surat Kaleng

Selamat sore, Tuan ...
Disini awan mendung kembali merajai duniaku. Sendu penuh pilu yang berselimut menjadi rindu. Rinduku padamu, Tuan ..
Yang hingga kini masih tersimpan dan mengendap di dalam dada. Sulit rasanya untuk mengutarakan apa yang ku rasa ini, Tuan ...

Tuan, bagaimana keadaanmu disana?
Ku harap baik-baik saja. Tuan, entah kau akan menganggapku pengecut atau pecundang. Bagiku sama saja, sama-sama tak ada harganya, tak berharga. Menyimpan cinta dan menyembunyikan kasih sayang untuk mu.
Tuan, tunjukkan cara agar aku bisa melupakanmu. Jika kau tak bisa menunjukkannya, setidaknya tunjukkan padaku cara untuk berpaling darimu. Aku mulai letih mencintaimu, maaf!

Tuan, aku bukan perempuan yang memiliki segala. Bukan pula perempuan yang selama ini engkau dambakan. Tapi Tuan, apakah dengan keadaanku yang serba kekurangan ini, aku tak berhak mencintaimu? Katakan saja yang sejujurnya. Tak mengapa Tuan ... jika itu kehendakmu, jika aku tak berhak akan hal itu, aku akan mencoba untuk perlahan-lahan menjauh darimu. Maaf, ku hanya mampu melakukannya secara perlahan, karena aku tak mampu menjauh dari mu.

Aku kalut, tersiksa dengan perasaan terpendam yang terpaksa ku pendam. Entah sampai kapan aku kuat bersembunyi dan menyembunyikan perasaan ini dari mu. Tuan, bagiku kaulah isi semestaku. Penuh, ramai, selalu menarik perhatian, aku tak pernah merasa bosan untuk mencintaimu (meski lelah). Bagiku, kau lah pemilik hatiku meski takkan pernah bisa ku miliki.

Aku sebenarnya malu, Tuan .. berbicara panjang lebar tak tentu arah. Tanpa bisa mendapat jawaban tentang ini semua. Tentang perasaan yang ku miliki, yang takkan pernah kau rasakan. Maaf, aku masih bersembunyi di keramaian, melihat dan memandangmu dari kejauhan. Tapi tenanglah, Tuan ... Aku takkan melakukan sesuatu yang gila, yang mungkin akan membuatmu risih dan membenci ku. 

Selama ini, aku selalu mengamankan diri dan perasaanku. Jangan sampai ada orang yang tahu, terutama engkau. Aku tak ingin engkau tahu, tapi di sisi lain, aku ingin engkau mengetahui ini semua. Sungguh, bimbang perasaanku. Aku terlalu takut untuk menunjukkan siapa diriku, tapi aku ingin engkau menyadari keberadaanku. Tuan, aku memang pengecut. Tak kuasa berkata jujur padamu.

Tuan, maafkan aku yang jauh dari segala harapmu. Maafkan aku yang jauh dari segala dambamu. Tak banyak kata dan cerita yang bisa ku ungkapkan, selain tanda cinta melalui surat kaleng ini. Do'akan aku, Tuan ... Agar suatu saat nanti, aku mampu menorehkan pena di secarik kertas ini dan menuliskan namamu di atasnya. Sampai jumpa di lain waktu, Tuanku ... 



Salam Rindu, dari yang selalu merindukanmu.


Jumat, 06 Februari 2015

Untuk Yang Menunggu

Hallo, masihkah kau di tempat yang sama?
Tempat yang sama, tempat dimana engkau selalu menunggunya. Bagaimana, apakah sudah ada kabar terbaru darinya? 
Darinya, manusia biasa yang telah kau nanti selama bertahun-tahun.

Hei, masihkah kau menangis karena hal yang sama?
Hal yang sama, yang selalu membuat air matamu lebih produktif hingga mengalir begitu saja di pipimu. Bagaimana, apakah kau sudah merasa lelah?
Barang kali, kau sudah lelah dan merasakan kepenatan karena menunggu.

Oh ya, masihkah kau menyimpan semua potret tentang dirinya?
Dirinya yang belum juga peka akan rasa yang kau miliki. Jadi bagaimana, apakah kau akan melanjutkan penantianmu?
Apa kau yakin takkan menyerah dan berhenti saja sampai disini?

Silahkan kau lanjutkan penantian akan cintanya. Aku takkan melarangmu. Hanya, jika boleh aku memberi saran, istirahatlah dulu walau sejenak. Rehatlah sebentar, itu hati bukan robot.
Ingat walau engkau masih bersikeras mempertahankan keinginanmu untuk tetap menunggunya, setidaknya perhatikan lah hatimu yang meringis kesakitan karena ulahmu sendiri.

Lagi pula, untuk apa menunggu suatu hal yang belum jelas kepastiannya?
Hanya membuang-buang waktu, sia-sia, tak berguna. Seharusnya, kau bisa lebih menyayangi hatimu. Dari pada terus menerus menyayangi hatinya yang jelas-jelas tak juga mencoba mengerti tentang rasa yang ada di hatimu.

Coba saja, kau mau mendengarkan nasihatku. Mungkin hari ini, kau takkan berteman dengan ketidakpastian. Mungkin juga, kau takkan mengenal kata menunggu. Dan sudah pasti, kau takkan tahu artinya berjuang sendirian. Berjuang mempertahankan apa yang menurutmu berarti, tanpa di anggap berarti olehnya, yang kau tunggu.

Berjuang itu sudah biasa bagi insan yang menginginkan kebahagiaan. Tapi berjuang untuk seseorang yang pantas di perjuangkan dan memperjuangkan hati kita, itu lebih indah. Lebih istimewa. Dan tentunya lebih menyenangkan, dari pada berjuang sendiri. Berjuang sendirian, jatuh cinta sendirian, tak lelahkah engkau?

Sudahlah, tak usah kau sesali. Nasi sudah menjadi bubur! Lebih baik, kau belajar membuka hati untuk sesuatu yang baru. Tinggalkan dia, tak usah kau tunggu. Gunakan waktu yang tersisa di hidupmu, untuk mendapatkan kepastian dari seseorang yang baru. Yang akan memastikanmu menjadi berarti dan menemani hidupnya.

"Untuk yang menunggu. Tak lelahkah, engkau?"

Kamis, 05 Februari 2015

Perbincangan Dini Hari

Waktu itu tepat pukul 24.00, handphone ku tak henti-hentinya berdering. Banyak pesan dan telpon masuk silih berganti. Ku balas dan ku jawab semua pesan dan telpon ucapan selamat ulang tahun, dari teman-temanku. Aku senang sekaligus bersyukur, karena memiliki dan dikelilingi orang-orang yang peduli padaku. Tapi kesenangan pada dini hari itu, tak lengkap ku rasa. Karena, aku belum menerima ucapan selamat darimu. Dari kamu, seseorang yang selalu menyita waktuku.

Gara-gara ucapan yang cukup banyak dan bermacam-macam do'a yang ku dapat itu, aku jadi susah untuk terpejam kembali. Aku terjaga. Dengan segala tentangmu yang bertebaran di atmosfer pikiran ku. Aih, kenapa sampai jam segini kamu belum juga memberikan ucapan padaku?
Apakah kamu tertidur pulas, sampai lupa hari ulang tahun perempuan yang selalu ada untukmu?
Atau, kamu memang sengaja melupakan hari kelahiran perempuan ini? Perempuan yang tak sengaja pernah menyakitimu. Maafkan aku!

Ku coba menenangkan diriku sendiri, ku tutup mukaku dengan selimut berharap aku bisa terhindar dari bayanganmu. Percuma, hanya menambah sesak dadaku saja. Ku putuskan untuk keluar dari kamar, sengaja aku membuat kopi hangat di dapur untuk menemani kesendirian ku di ruangan yang terdapat beberapa gambar rupamu yang ku pajang di dinding itu. Lagi-lagi ku melawan sendu dengan secangkir kopi yang ku buat sendiri tanpa kehadiranmu.

Pukul 01.00, cangkirku sudah kering. Tak ada setetes pun yang tersisa. Handphone ku juga sudah redup tak berdering lagi. Mungkin ucapan dan do'a yang ku terima sudah cukup. (Masih) tak jua ku temukan pesan atau telpon darimu. Aku kalut, bagaimana bisa kamu yang selalu ada dan memberikan kejutan di hari ulang tahunku tak ada untuk kali ini. Kecewa, ternyata kamu tak seistimewa itu. Atau jangan-jangan, aku yang tak istimewa lagi bagimu?
Baiklah, cukup aku menunggu sesuatu yang tak mugkin terjadi. Ku putuskan untuk tidur kembali, takkan lagi ku biarkan diriku terjaga malam ini. Tolong, jangan ganggu aku!

***

Saat itu (mungkin) aku sedang tak sadarkan diri. Jiwaku sedang berada di dimensi yang lain, orang-orang biasa menyebutnya dunia mimpi. 
Entah mimpi atau bukan, tiba-tiba saja handphone ku berdering. Dengan keadaan setengah sadar ku menekan tombol dan menjawab telpon itu. Terdengar suara seorang lelaki yang tak asing lagi ditelinga ku. 

"Hallo" Ucapnya mengejutkan ku yang masih mengumpulkan nyawa yang entah dimana.
"Iya?"
"Hai, selamat ulang tahun. Semoga semesta merayakan dan mendo'akan apa-apa yang terbaik dan pantas untukmu."
"Kamu ! ....."

Kami berbincang sangat lama, menghabiskan dini hari yang cukup dingin saat itu. Menghancurkan kebisuan yang ada, menggantinya dengan kata dan tawa yang renyah. Ia bercerita tentang kehidupannya setelah jauh dan menjauh dariku. Ia juga berkata bahwa ia masih belum bisa memaafkanku, sekaligus melepaskanku. Aku akan tetap mengikatmu dalam kebahagiaan, ungkapnya kepadaku. Inilah yang membuatku membiarkan diri untuk jatuh, jatuh dan terjatuh pada cintanya, lagi dan lagi. Semua kesenduan yang sempat ada, itu hanya hal yang biasa bagiku pun baginya.

Perbincangan yang sangat ku rindukan, perbincangan yang ku nantikan setelah hampir satu semester berlalu. Semenjak kamu memilih pergi untuk melanjutkan study di luar kota. Saat itu, kamu berkata masih berada di kota Bandung. Oke, tak mengapa. Yang ku inginkan hanya bisa berbincang lagi denganmu, tak banyak dan tak lebih, hanya itu.

Tapi, apa yang terjadi?
Di ujung telpon ku dengar suaramu, menyuruhku untuk keluar rumah. Gila, untuk apa aku keluar rumah saat dini hari seperti ini? Kamu pikir aku hansip penjaga poskamling, hah?!
Kamu hanya tertawa, menertawakan kicauanku yang menolak perintahmu untuk pergi keluar. Kamu terus memaksa, aku tak berdaya.

Ku ambil sweater di lemariku, entah sweater mana yang ku pakai saat itu. Bergegas aku menuruni tangga sampai lupa menutup pintu kamarku. Aku sedikit berlari menuju teras rumah dengan handphone yang masih ku genggam, tak ku dengar lagi suaramu disana. Saat ku membuka sedikit tirai dari balik jendela, ku temukan sesosok lelaki yang sedang berdiri membelakangi pintu rumahku. Ku buka pintu rumahku, dan apa ini yang ku lihat? Ku temui sosokmu disana, memberiku senyuman dan mengelus rambutku. Tak banyak yang aku lontarkan. Begitu juga dengan mu, tak banyak yang kamu ucapkan kala itu. 

Yang masih ku ingat, kamu tersenyum dan berkata "Selamat ulang tahun perempuanku, semoga kau menua dengan kecantikan yang selalu ku rindukan." sembari memberikan sebuah kotak kecil dan setangkai mawar berwarna merah muda yang sampai sekarang ku simpan di ruangan kamarku ini. Terima kasih, wahai Tuan yang selalu hadir dengan berjuta-juta kejutan untuk hidupku.

Sengaja ku tuliskan sedikit tentang perbincangan kita di teras rumahku pada dini hari itu. Pukul 02.00, waktu yang ingin ku hentikan sejenak dan waktu yang akan selalu ku rindukan hingga saat ini. Mengenai perbincangan dini hari yang teramat singkat itu, aku mengakui bahwa kamu adalah kejutan yang selalu aku nantikan di setiap hari-hariku. Terima kasih atas segala kiriman do'a yang (mungkin) selalu kamu panjatkan pada Tuhan. Maafkan aku, yang hanya bisa mengirimkan selembar surat ini dengan balutan segala do'a didalamnya. Untukmu, hanya do'a untukmu.

Rabu, 04 Februari 2015

Pertemuan

Pertemuan.
Maaf, aku tak bisa dengan lantang menceritakan tentang semua. Semuanya tentang kita, yang bertemu dengan tak sengaja, yang berpisah dengan tak terduga. Engkau pun tahu, semua terjadi begitu saja. Tanpa sempat kita kendalikan. Jangankan untuk dikendalikan, untuk mencoba mengendalikannya saja kita tak mampu.

Ya, siapalah kita? 
Kita hanya tokoh yang memerankan karakter masing-masing, yang memerankan takdir yang sudah di gariskan oleh Sang Penguasa Semesta. 
Mungkin memang ini yang pantas untuk kita jalani. Kita berjalan di alur yang berbeda. Yang tak pernah menemukan ujung untuk bersatu kembali. Jalan kita berbeda, bukan?
Biarlah, semoga itu jalan terbaik.

Tak banyak kenangan yang bisa ku simpan, tak banyak pula kenangan yang bisa kau berikan. Mungkin itu sebabnya, masing-masing di antara kita memilih untuk melupa.
Entah melupakan suka yang masih memilih untuk ada. Entah melupakan luka yang sampai sekarang masih menganga. Pertemuan dan perpisahan itu selalu berpasangan, bukan?
Tapi, mengapa kita tak berpasangan?

Melupakan itu takkan pernah mudah, meski berkai-kali kau mencoba untuk merelakan. Sama seperti ku, yang hingga kini masih berusaha keras melupakan mu dengan cara merelakanmu.
Merelakanmu pergi begitu saja, merelakanmu untuk menyerah begitu saja, merelakanmu untuk hilang begitu saja. Tanpa sempat mempedulikan keadaan ku disini.

Tapi tak mengapa, disini aku mencoba untuk tangguh. Aku memilih untuk bertemu dan memulai semuanya dengan seseorang yang baru. Yang mungkin akan bisa mewujudkan impianku untuk berada di pelaminan. Menjadi ratu dan raja sehari, setelahnya kami akan menjadi sepasang kekasih yang biasa yang memiliki sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang luar biasa, yang bisa kami pamerkan pada semesta. Meski, entah kapan keinginanku itu bisa terwujud. Setidaknya, aku sudah berani mengenal seseorang yang baru.

Perihal tentang mu, yang tak bisa aku jelaskan. Perpisahan yang merenggut semua diantara kita, selalu ku ingat sekaligus ku benci. Sama seperti mu, yang (mungkin) akan selalu ku ingat tanpa pernah bisa ku benci. Pertemuan yang singkat dengan perpisahan yang cepat, memberikan makna tersendiri bagi kita. Tak usah persalahkan waktu, tak perlu mempermasalahkan apa-apa tentang aku dan kau, yang dulu pernah bertemu dan bersatu.

***

#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-6
For The First Time In Forever, 
"Melalui surat yang akan dikirim dan disebarkan melalui lini masa, semoga engkau membuka dan membacanya. Bagi seseorang yang pernah pergi tanpa berjuang. Bagi seseorang yang pernah menyerah tanpa berusaha."

Selasa, 03 Februari 2015

Putra Santosa

Namamu sungguh mencerminkan lelaki yang gagah, nak. Ku dengar, kamu baru sehari berkenalan dengan semesta. Wah, selamat ya ... Kamu sudah berhasil terlahir ke dunia, berkat kerja keras Ibunda mu selama mengandung dan saat proses persalinan tentunya. Umur mu baru sehari, nak! 
Jika boleh aunty tahu, apa rencana mu datang ke dunia ini? Apa yang akan kamu lakukan nanti? Dan apa yang kamu inginkan dari orang-orang yang tinggal di dunia ini?

Ah, kamu pasti pusing menjawab pertanyaan aunty ya?
ehehe maaf ya, maaf ... Tak seharusnya aunty memberi pertanyaan yang seperti itu. Kamu masih terlalu mungil untuk memikirkan hal-hal itu, bukan?
Oh iya, aunty harus memanggil kamu dengan sebutan apa, nak?
Ade, Kaka, Putra, Santosa atau Osa?
Ayo pilih, nama panggilan mana yang kamu suka?

Dear, Putra Santosa. Jika suatu saat nanti kamu membaca tulisan aunty ini, mungkin kamu akan memiliki beberapa pertanyaan yang menyeruak didalam pikiranmu.
Seperti; Siapa sih, perempuan ini? Kenapa dia sok kenal dan mengenali ku? 
Ya, kira-kira seperti itu pertanyaan yang akan ada dibenakmu.
Hallo Putra ... Bukan maksud aunty untuk lancang padamu. Aunty hanya ingin memperkenalkan diri padamu. Itu saja, tidak lebih.

Aunty tahu hal tentang mu dari Om-mu sendiri. Kebetulan, aunty dan om sudah berteman dan bersahabat selama 4 tahun. Wah, aunty tak menyangka bisa memiliki sahabat dan bersahabat dengan om-mu itu. Kamu tahu, tidak? Om-mu yang biasa aku panggil Uga, benar-benar pribadi yang menyenangkan dan menenangkan. Ish, aunty berlebihan ya? ahaha
Tidak, tidak, tidak Putra ... Aunty tak berlebihan.

Serius deh, om-mu itu sungguh baik, hatinya tulus, menyenangkan dan selalu bisa membuat aunty senang. Banyak kejadian seru yang kami lewati berdua, dari mulai kejadian di tempat kerja dulu, main dan keluar di malam hari, kebiasaan makan kwetiaw di tempat makan pinggir jalan favorite kami yang bernama Latansa, sampai pulang kerja dengan menggunakan sepeda. 

Terkadang, om-mu suka menggunakan sepeda untuk berangkat dan pulang dari tempat kerja. Berhubung, aunty sudah biasa pulang bersama om-mu, tak peduli apakah om menggunakan motor atau sepeda, tak peduli sore atau malam, om-mu itu pasti selalu mengantarkan aunty sampai ke rumah dengan selamat. Om-mu sungguh hebat, bukan? Benar-benar lelaki yang mengerti cara memperlakukan perempuan. Melindungi dan memberi rasa aman padaku. 

Putra, kata om, kamu mempunyai kulit yang putih, macam orang-orang bule gitu. cieee makin ganteng aja dong, adiknya Putri ini. :)
Sebenarnya, aunty tak heran jika kamu berkulit putih. Karena, kakak dan om-mu saja putihnya minta ampun. Jujur, terkadang aunty suka merasa iri pada om-mu. Ya karena itu, karena kulitnya lebih putih dari pada aunty.

Putra, sebenarnya aunty merasa tidak enak hati pada om-mu itu. Aunty merasa, ia sudah terlalu banyak membantuku. Aku selalu saja merepotkan om-mu itu. Maafkan aunty ya, Putra ...
Jangankan saat kami masih bekerja di tempat yang sama, saat kami sudah tidak bersama seperti sekarang saja, terkadang aunty masih membutuhkan bantuan dan kehadirannya. Saat aunty harus mondar-mandir ke Bandung. Entah mengambil data di kantor pusat untuk bahan skripsi atau untuk mengantar dan menemaniku pada saat panggilan interview kerja di Bandung. Om-mu (Uga) selalu setia menemani aunty. ehehe jika kamu sudah besar dan bisa bicara nanti, tolong sampaikan ucapan terima kasihku padanya ya, Putra ..

Pokoknya banyak deh, suka duka yang kami lewati bersama. Meski sekarang kami tak bersama seperti dulu, tapi kami selalu punya waktu untuk memberikan kabar bahkan tak jarang kami luangkan waktu untuk bertemu. Persahabatan kami sungguh indah, bukan?
Putra, kalau kamu sudah besar dan beranjak dewasa, aunty ingin kamu bisa menjadi lelaki yang terbaik, lelaki yang sempurna dambaan setiap perempuan.

Percaya deh, sama aunty!
Saat kamu beranjak dewasa, kamu pasti menjadi topik yang akan selalu di bahas oleh perempuan-perempuan yang mengagumi mu. Kamu akan tumbuh menjadi seorang lelaki yang tampan, Putra .. Tak hanya tampan, semoga kamu bisa menjadi lelaki seperti om-mu itu. Belajarlah cara membahagiakan perempuan padanya.

Oke deh, Putra .. cukup sekian perkenalan dari aunty. Maaf ya, kalau aunty cerewet seperti ini. :))
Semoga kebahagiaan selalu menaungi kehidupanmu ya, Putra .. Tak peduli dimana pun kamu berada, kebahagiaan tak akan pernah bisa merasa bosan untuk selalu menemani dan berada didekatmu. Semesta mendo'akan mu, nak! 
Sampai jumpa kembali, Putra Santosa .. Welcome to the world !!!

Senin, 02 Februari 2015

Menyalahkan Kamu

Sore ini, aku sangat terburu-buru menulis surat cinta untuk mu. Tak banyak waktu yang ku miliki untuk mencurahkan perasaan ku di surat ini.
Surat yang (mungkin) takkan pernah terbaca atau dibaca oleh mu. Surat yang (mungkin) takkan pernah ku kirimkan atau dikirimkan kepada mu. 

Aku bingung, bagaimana menyampaikan ini semua. Aku tahu, kamu bukan seorang lelaki yang romantis, bukan seorang lelaki yang melankolis dan juga bukan seorang lelaki yang menyukai kata-kata puitis. Bagimu, semua itu hanya sesuatu yang berlebihan. Sesuatu yang hanya membuang-buang waktu. Ah, seharusnya aku tahu, semua yang ku lakukan ini hanya sia-sia.

Apakah kamu tahu, apa yang membuat ku telat menulis surat cinta untuk hari ini?
Hari ini, tiba-tiba saja kepala ku diserang rasa sakit. Pusing sekali rasanya, seperti ada ribuan monster yang memukul-mukul kepala ku secara terus menerus. Terbayang tidak, rasa sakitnya seperti apa?
Bukan maksud ku bersifat berlebihan dan mencari perhatian padamu. Tapi sungguh, Tuan ... Aku sedang sakit sekarang. Jika sudah seperti ini, hanya satu yang muncul di dalam pikiranku. Rasa takut yang menakutkan ku.

Aku takut. Takut jika aku terus menerus sakit seperti ini, aku tak bisa memikirkan mu. Aku takut, tak bisa memperhatikan mu, meski dari jauh. Aku takut, takut tak bisa lagi mencari tahu segala sesuatu tentang mu. Karena jika aku sedang sakit seperti ini, pasti dokter menyarankan kepadaku untuk beristirahat dan tidak memikirkan banyak hal yang membuat ku cemas. Kamu tahu tidak, salah satu hal yang selalu membuatku merasa cemas itu adalah kamu. Kamu yang masih menguasai isi dari pikiran dan hatiku. 

Saat tidur siang tadi, aku bermimpi dan memimpikan kamu. Di mimpi itu, aku menyaksikan kamu sedang tersenyum. Seharusnya aku bahagia karena telah di jenguk oleh mu (meski hanya dalam mimpi) tapi setelah aku bermimpi tentang mu, yang ada hanya rasa kesal yang ku rasa. Aku kesal karena di mimpi itu, kamu tersenyum pada seseorang yang bukan aku. Entah siapa perempuan yang beruntung mendapatkan senyuman darimu, dalam mimpi ku tadi siang.

Jika sudah seperti itu, ingin rasanya aku menyalahkan mu. Menyalahkan mu atas rasa sakit dan kesakitan ini. Maaf, mungkin aku terlalu picik karena selalu menyalahkan mu atas segala sakit yang ku rasa. Apakah aku sudah terlalu jahat padamu, Tuan?
Atau jangan-jangan, kamu yang selama ini jahat kepada ku?

Kamu jahat, karena tak pernah mempedulikan ku, tak pernah menganggap ku ada, tak pernah mau mengenal ku lebih jauh. Jahat sekali, bukan?
ah, lagi-lagi aku harus mengucapkan kata maaf padamu. Maaf, aku selalu menyalahkan mu. Seolah-olah kamu biang keladi dari apa yang ku rasakan selama ini.

Padahal jika saja aku tidak terlalu mengharapkan mu, jika saja aku tidak terlalu percaya padamu, jika saja aku tidak terlalu menganggap mu berarti, mungkin aku takkan pernah merasakan kesakitan ini. Mungkin saja, aku takkan pernah menyalahkan mu seperti ini. Tapi, tenang saja. Meski perlakuan mu tak sesuai dengan perlakuan yang ku berikan padamu, aku akan tetap menganggap mu sebagai seseorang yang terbaik dalam hidupku.

Aku berjanji, takkan pernah mengeluh dengan apa yang terjadi dalam hidupku. Rasa sakit yang ku rasakan sekarang, tak akan membuat ku lemah, tak akan membuat ku rapuh. Ini belum seberapa, Tuan. Aku perempuan yang kuat, Tuan. Aku kuat karena mu!
 
Terima kasih Tuan. Dan maaf, karena sampai sekarang aku belum berani menyisipkan namamu di dalam semua tulisan atau surat yang ku buat ini. Tapi, percayalah. Percayalah, bahwa apa yang ku ungkapkan ini, adalah inspirasi yang ku dapatkan saat memikirkan mu. Untuk kamu sang inspirasi dalam hidupku, Aku mencintaimu.

Minggu, 01 Februari 2015

Untuk Lelaki Yang Bertemu Semalam.

---Untuk kamu yang belum sempat ku kenal.---

Tak di sangka, kita bisa bertemu kemarin malam. Sebenarnya, aku sudah menyadari keberadaan mu sejak pertama kamu masuk ke cafe itu. Dari awal melihat rambut mu yang hitam dan di sisir rapih, jantung ku seolah berhenti untuk sejenak. Ku coba menyadarkan diri sendiri, sambil mengingat siapa kamu sebenarnya. Dan tak butuh waktu lama, aku langsung tahu dan ingat nama mu.

Iya, kamu. Kamu yang sempat mengeluarkan amarah padaku hanya karena kesalah pahaman saja. Mungkin kamu masih mengingatnya, atau mungkin tidak. Setahun yang lalu, aku pernah memuji parasmu yang sungguh menarik bagiku, walau tak mengucapkan pujian itu secara langsung. Maaf, jika aku terlalu frontal mengatakan hal itu sampai membuat mu risih. Tapi mau bagaimana lagi, memang seperti itu kenyataannya, bukan?

Semalam, aku merasa bahwa kita berdua sedang bermain mata. Aku tahu, dari jauh kamu memperhatikan gerak-gerik ku. Setelah aku sadar dan menoleh ke arah mu, kamu langsung berpaling dan mengalihkan pandangan mu dariku. Ih, kamu pikir aku tak tahu akan hal itu?
Tahukah kamu? 
Sebenarnya aku juga melakukan hal yang sama, persis seperti yang kamu lakukan. Curi-curi pandang hanya untuk memperhatikan sosokmu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dan sosokmu masih sama, masih menarik dan tampan.

Aduh, maaf ya .. lagi-lagi aku memuji mu. Aku mohon, tolong jangan pernah merasa risih dengan apa yang ku ucapkan. Karena pujian yang ku berikan untukmu hanya sebatas memuji, sekedar kagum tak ada niatan untuk lebih dari pada itu. Dan tolong, jangan pernah berpikir aku akan mencinta dan mencintaimu.
Bagiku, kamu hanya sosok lelaki yang pasti selalu ada dalam lamunan para kaum hawa. Tak mungkin di miliki, tak juga untuk jadi nyata, karena keberadaan mu hanya ada pada angan-angan saja.

Untuk lelaki yang bertemu dengan ku semalam. Kemarin pertama kalinya kita bertemu, kemarin pertama kalinya kita melihat sosok kita masing-masing di dunia nyata. Tak seperti selama ini, yang sekedar bertemu di dunia maya saja. Meski kita bertemu di waktu yang tak tepat, tapi aku cukup bahagia akan hal itu. Meski kita bertemu di tempat yang biasa saja, tapi aku merasakan hal yang luar biasa karena bisa bertemu dengan mu. Dan meski kita bertemu disaat kamu sedang bersama kekasihmu, aku tetap bisa tersenyum dan bersyukur karena akhirnya kamu bisa tahu siapa aku sebenarnya.

Entah, kapan kita bisa bertemu lagi. Apakah mungkin pertemuan kita semalam adalah pertemuan yang tak di sengaja atau memang sudah di takdirkan oleh Tuhan?
Sudahlah, tak usah kamu pikirkan tentang apa yang ku ungkapkan ini. Aku hanya perempuan asing yang kebetulan ingin mengenal dirimu. Tak usah memperdulikan keberadaan ku. Lebih baik, kamu pedulikan saja perempuan yang duduk di samping mu itu. Dia itu kekasih mu, bukan?

Jaga perempuan berkerudung merah itu ya, dia pantas mendapatkan mu. Tetap ada disamping nya seperti semalam, jaga hatinya jangan sampai dia merasa cemburu karena keberadaan perempuan-perempuan lain yang tertarik padamu dan yang selalu memuji kesempurnaan mu.
Tetap jaga hatimu hanya untuk nya, perempuan yang (mungkin) kamu cintai.