Sabtu, 22 Agustus 2015

Perempuan Dan Tangisannya.

Redalah. Wahai air suci yang menetes dari indera penglihatan. Tak letihkah, engkau mendera dan membasahi pipinya? 
Bisakah, kau mengering?
Kasihan, ia tak mempunyai apapun atau siapapun untuk membasuhmu. Ia terlalu malu untuk mengakui luka yang masih menganga di dadanya. Tangis!

Tangisannya, tak mampu mengubah segala tentang mu. Semesta tahu itu. Tapi setidaknya, tangislah yang mampu menenangkan hatinya walau sementara. 
Jika hendak menyentuh hatinya, engkau salah, Tuan. Percuma. Hatinya hanya tinggal kepingan, mungkin karena seringnya ia terluka atau dilukai.

Entah siapa yang tega melakukan itu, Tuan. Yang ku tahu, ia senang bertemankan tangis setiap malam. Seolah memanen kesakitan yang diperolehnya.
Tapi tenangkan dirimu, Tuan.
Aku lihat, ia cukup memegang kendali di hidupnya. Ia mampu berdiri, berlari (lagi) walau kadang terjatuh (lagi).

Tuan, jika kau ingin memberi penawar bagi kesakitannya. Datanglah, tak perlu meragu. Barang kali, selama ini engkaulah yang ia harap dan ia cari.



1 komentar: