Jumat, 25 Maret 2022

Pupus

Merebah jiwa-jiwa yang lelah.
Luluh lantah di terpa nestapa.
Bahagia-bahagia sekadar asa.
Hati mati tak lagi kenal rasa.

Kekal hidup dalam ingatan.
Hancur jadi santapan kenyataan.
Memimpikan utuh untuk tumbuh.
Ternyata jatuh berkali-kali rapuh.

Terjerat rindu tak berujung temu.
Do'a-do'a magis tak terbendung.
Tangis berderai menandakan runtuh.
Terbata merapal kalimat yang sendu.

Seluruh tanya menjalar di pikiran.
Perihal lelaki di ujung tanduk.
Serta perempuan di paruh waktu.
Berbalik, berpisah, berbeda arah.

Asmara punah menjadi abu.
Di larung haru ke laut biru.
Semesta diam berkabung.
Sakralnya cinta kini telah terkubur.





Jumat, 18 Maret 2022

Patah Hati Terhebat

Kembali ku cermati kisah-kisah yang telah usang.
Mencoba mencari jawaban dari apa-apa yang pernah terjadi. 
Haruskah aku mengubur dalam-dalam semua rasa yang ada?
Mati-matian aku bertahan, aku basuh setiap luka agar segera pulih. 
Walau tak jarang, ku kembali terjerumus dalam lubang kenangan.
Menyepi lagi, menyendiri lagi, meratapi lagi. Entah, mengapa aku begitu gemar memeluk kenangan.
Membiarkan diri terombang-ambing, tersiksa saat mencoba melupakan sesuatu memori yang abadi.
Apakah ada yang peduli dengan kesakitan yang ku rasakan ini?

Perlahan tapi pasti, aku balut semua memar yang membiru, ku sayangi diri ini, agar hatiku semakin membaik.
Agar suatu saat nanti, bila aku bertemu dengan seseorang yang baru, aku akan siap dan bisa mengucapkan selamat datang dengan indah nan cantik.
Tapi sayang, semua itu tak mudah. Kembali ku berlari mengejar bayangmu yang semu. 
Tak ku temukan lagi, sosokmu di sana. Dimana sepasang mata sayu yang teduh itu berada?
Tak ku lihat lagi dirimu di sana. Tak ada yang menanti kedatanganku lagi, tak ada yang merindukan kehadiranku lagi.

Hilang, kataku.
Konon, sesuatu yang datang dengan mudah akan pergi dengan mudah juga. 
Mirip sepertimu, ya? :)
Dengan mudahnya datang, menyapa, merayu hingga memaksa.
Bodohnya aku, bisa-bisanya percaya dengan seseorang yang sangat asing sepertimu.
Ku persilakan engkau masuk, mengenalmu, memahamimu, membiarkanmu duduk di singgasana hatiku.
Sungguh payah, hanya sekejap kau beri kebahagiaan padaku. 
Setelah kau merasa cukup bersenang-senang, kau meninggalkan ku dengan mudah.
Tanpa perlu bimbang, perpisahan pun kau undang dengan penuh kebanggaan.

Katamu, dapat mengenalku adalah anugerah. 
Kau cukup bahagia karena pernah menghabiskan waktu bersama denganku. 
Tapi maap, tidak bagiku.
Bagiku, kebahagiaan yang kau berikan padaku tak sepadan dengan kesakitan yang kau beri.
Entah kenapa rasa sakit ini lebih banyak jumlahnya, dibanding bahagia yang kau beri padaku.
Mengapa waktu kita begitu sedikit?
Apakah aku tak pantas untuk menerima dan mendapatkan yang lebih darimu?
Mengapa aku harus merelakan (lagi), merasakan hidup yang payah dan kalah?

Aku kira, patah hati yang paling hebat adalah ketika kau mendapat penolakan dari seseorang yang kau cintai.
Aku kira, patah hati yang paling hebat adalah ketika kau tak bisa bersama dengannya, karena cara berdo'a yang berbeda, ketika Tuhan yang kau miliki berbeda dengan Tuhan yang ia miliki.
Ya, dahulu aku sempat mengira hal-hal seperti itu adalah suatu keadaan yang sangat menyakitkan.
Tahukah kau, bahwa kini ada kesakitan yang lebih hebat dari itu semua?
Kini aku sadar, ada yang lebih sakit dari itu semua. 
Kau tahu, tak ada yang lebih getir dari cinta yang dipaksa patah oleh keluarga. 
Patah hati yang paling hebat adalah penolakan dari keluarga. Ya, ini yang terhebat!

Ku mencoba menerima kenyataan.
Tenang, aku mencoba menghindar dari segala tentangmu. 
Aku bukan seorang perempuan jahat, yang membuat seorang anak lelaki menjadi orang asing untuk keluarga dan rumahnya.
Aku menyayangi dan mengasihimu dengan sungguh dan tulus. 
Tak apa, jika aku harus berteman dengan rasa sepi yang lirih ini.
Setidaknya, untuk sementara aku akan akrab dengan kesepian. 
Selama di sana kau tetap baik-baik saja, aku bisa merasa tenang.

Aku mengerti, tak mudah untukmu menghadapi semuanya. 
Aku tahu, kau juga merasakan (sedikit) kesakitan yang sama sepertiku.
Maap, karena aku begitu lihai berpura-pura menjadi kuat dihadapanmu. 
Maap, karena aku mencoba melepaskanmu lebih dulu.
Mungkin terlalu dini untuk kita saling mencinta, hingga terlalu dini kita berpisah, tanpa ada daya upaya untuk mempertahankan rasa cinta yang kita miliki.

Yang perlu kau tahu, aku mungkin perempuan yang lemah bagimu, yang (mungkin) begitu mudah kau raih.
Tapi kau juga harus tahu, bahwa aku bisa pergi. Di waktu yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya.
Aku pergi dan belajar merelakanmu, karena aku sadar, bahwa aku bukanlah pilihan.
Suatu saat, ku harap kau mengerti, bahwa aku adalah perempuan yang layak dicintai, yang pantas disayangi, yang bisa diterima tanpa syarat dan tanpa kata "tapi". 

Semoga arah yang baik akan segera datang, entah untuk kehidupanmu atau untuk kehidupanku.
Hingga waktu itu tiba, kita sudah berdamai dengan keadaan. 
Saat kau tak perlu terganggu dengan segala hal tentangku.
Dan aku tak perlu lagi tahu dan mengenang segala hal tentangmu.

Untuk kita yang sama-sama gegabah dengan perasaan, untuk kita yang sama-sama payah dalam mengakhiri perasaan.
Semoga Tuhan masih mengijabah setiap lantunan do'a, untuk kita hidup dengan kuat dan bahagia walau tak lagi bersama.



Minggu, 06 Maret 2022

Singkat

Ku mencoba menyelami pikiranku sendiri.
Berisik, banyak suara yang ikut campur perihal masalah yang satu ini. 
Haruskah aku diam atau haruskah aku ucapkan sumpah serapah pada keadaan yang menjengkelkan ini?
Otakku semakin lelah, seperti sudah putus asa dengan alur pikiran yang ada.
Terkadang, hati nurani ikut andil dalam mengambil keputusan. Tak melulu menggunakan si pintar logika.
Menyedihkan, bukan? Menjadi aku yang lebih lemah dan patuh terhadap kata hati.

Waktu terus berjalan, tak terasa aku hampir berada di ujung kisah.
Entahlah, apa aku bisa menceritakan ini pada semesta?
Entah, sebutan apa yang pantas ku berikan untuk kisah yang baru ini. Kisah yang menurutku tak semestinya ada.
Ah, kisah yang begitu singkat! 
Ya, kisah yang begitu singkat, julukan itu terdengar lebih pantas untuk kisah kita.

Entah apa maksud semesta, mempertemukan kita dengan begitu penuh kejutan.
Kau pasti tak pernah menduganya, kan? Sama, aku pun tak pernah menduga semua ini bisa terjadi.
Tapi, bukankah Tuhan selalu memberikan kejutan dan makna di setiap pertemuan sepasang insan?
Kejutan apa, yang kira-kira akan kau berikan untukku dan kejutan apa yang mungkin aku berikan untukmu?
Saat itu, kita masih menebak-menebak rahasia hidup yang ada.

Kita lalui, detik demi detik waktu yang ada.
Sapaan, candaan, sedikit sentuhan, kecemburuan dan pertikaian tanpa sadar (hampir) kita lumat habis.
Setiap malam yang sepi, kita memilih bercengkrama bertukar isi kepala & hati. Saling mengisi dan mengasihi.
Menghapus rasa ragu akan sesuatu, menyembunyikan rasa takut akan sesuatu, memeluk rasa rindu akan sesuatu.
Kita begitu pandai, menghabiskan waktu pemberian yang Maha Kaya.
Atau kita begitu bodoh dengan menghabiskan waktu bersama?

Tenang, aku tak akan membencimu.
Walau waktumu begitu singkat untukku, tapi aku harap rasa cintamu tak sesingkat itu.
Bisakah aku tetap mendapatkan itu? 
Cinta yang kekal, yang tak tergerus waktu. Cinta yang nyata, yang dimanapun kau berada, kau masih milikku.
Bisakah? ah, Tentu saja tidak bisa! Iya kan?
Dasar wanita bodoh, bisa-bisanya meminta pada seseorang yang ia sendiri saja tidak tahu dan tidak yakin atas pilihan hidupnya.
Hei, kalau boleh aku bertanya, siapa diantara kita yang paling bodoh?
Apakah aku atau dirimu?

Sisa-sisa rayuan masih ku ingat jelas. Kalimat yang teramat manis pernah terlontar dari bibirmu.
Sempat membuat hatiku penuh oleh ribuan kupu-kupu. Sesak yang begitu menyenangkan, yang sampai saat ini masih sempat aku rindukan.
Apakah kalimat magis itu, masih ada dan pantas untuk ku dapatkan (lagi)?
Tentu tidak, ya?
Setelah beberapa malam yang lalu, aku memilih untuk menyudahi kisah yang sebentar ini. Sekarang, mana bisa aku mendapatkan segala hal yang membahagiakan darimu?

Walau, kau selalu berusaha ada.
Menjelaskan apa-apa yang masih bisa kau perbaiki, berharap aku mengerti, berharap aku menerima perihal segala kesusahan dan kebimbangan yang kau miliki.
Ya, tanpa berpikir jernih, aku memilih menyendiri. Menepis kehadiranmu, menghindar dari segala sesuatu tentangmu.
Aku kembali memilih berteman dengan lirik-lirik melankolis dan buku-buku dengan kisah cinta yang lirih. 
Tak mau lagi aku mendengarmu, tak mau lagi aku bertemu denganmu.
Aku jahat, ya?
Tanpa sadar aku menghukum kita. Kita yang sekarang sama-sama saling meluka dan mencoba untuk melupa.

Tidak ada yang tahu, mengenai ujung kisah seseorang.
Untuk aku yang sempat terbuai olehmu, dirimu yang pernah berkata aku dan kamu akan bisa menjadi kita.
Sedari awal, aku sudah menyadari perihal kita yang hanya sekadar kata. Yang (mungkin) tak akan ada dan tak juga jadi nyata.
Miris ya?
Sesuatu yang berawal membahagiakan, mengapa harus di akhiri dengan kesedihan?

Untuk kisah yang sebentar ini, pantaskah untuk kita pajang di labirin ingatan?
Entah ingatanmu atau ingatanku.
Aku cukup bahagia dan senang bisa bertemu dan mengenalmu, cukup terpukau dengan sesosok manusia yang tak pernah ada dikhayalanku sebelumnya.
Aku senang dengan kehadiranmu, karena kau selalu menghadirkan banyak kembang api yang meletup letup di dalam dada. 
Bagaimana denganmu?
Apakah kau bahagia dan senang pernah memiliki cerita denganku atau kau hanya merasa biasa-biasa saja? 
Aku harap, kau tak menyesal pernah berhadapan dan mengurusi sebagian hidup wanita yang cukup payah ini. :')

Untuk awal yang berhadiahkan akhir, aku ucapkan terima kasih pada engkau yang sempat dan pernah ada.
Untuk sesosok orang asing, yang sempat menghadirkan irama-irama kebahagiaan yang cukup bising, sekali lagi ku ucapkan terima kasih.
Maap untuk setiap kata yang pasti pernah sangat menyakitkan, semoga kau bisa melupa dan hatimu perlahan-lahan bisa segera merasa teduh dan nyaman.
Tak perlu lagi kau merasa kesakitan yang terus menerus menyiksa hati, karena kau kini telah terbebas dari apa-apa tentang kita.
Semoga kelam tak lagi singgah di hatimu, semoga kasih bisa kembali hadir di hatimu.

Perihal aku, biarlah di sini (untuk saat ini) sendiri. 
Biar aku rapihkan kepingan-kepingan hati yang ada. Biar waktu yang menyembuhkan luka.
Tenang saja ... do'a-ku untukmu dan untuk kita masih sama. Semoga segera bisa kembali bahagia, entah masing-masing atau kembali berdua.
Semoga semesta masih mau memberikan kejutannya pada engkau dan aku dengan cara yang lebih indah dan bahagia.
Selamat berjumpa di ingatan masing-masing, semoga engkau tetap hidup dikelilingi kasih sayang dari semesta.