Minggu, 06 November 2022

Sulung

Bahagia tak lagi sederhana bagiku.
Dulu, aku cukup bahagia meski hanya sekadar memiliki permen gula-gula yang memenuhi genggaman.
Aku juga sudah sangat bahagia kala itu, meski hanya sekadar memiliki balon warna warni yang masa hidupnya tak berlangsung lama. 
Satu persatu balon itu akan mengempis, karena jatah udara di dalamnya sudah habis.
Banyak hal-hal kecil, sepele bahkan tak begitu berarti, namun bisa membuat lengkungan indah di bibirku.
Aku yang dulu, begitu bahagia dengan hal-hal kecil yang remeh temeh. Begitu sederhana, bukan?

Masih terngiang, ucapan Ibu yang selalu memanggilku jika aku bermain terlalu jauh dari jarak pandang Ibuku.
"Hati-hati" katanya, 
"Pelan-pelan jalannya, jangan sampai jatuh, ya.." Ucapnya lagi.
Tak jarang, Ibu menggandeng tanganku, saat kami melewati beberapa jalan yang terjal.
Aku masih mengingatnya, setiap detail kejadian saat Ibu selalu ada untukku.
Baginya, aku adalah si Sulung yang sangat berharga. 
Puja puji selalu beliau lontarkan padaku, katanya aku sangat cerdas, aku sangat pandai memahami setiap hal baik yang Ibu ajarkan kepadaku.
Tapi menurutku, bukan aku yang cerdas, melainkan memang Ibu yang istimewa. 
Ibu adalah seorang guru yang serba bisa, teramat baik untukku, sabar dan penuh kasih sayang.

"Bu, bolehkah aku kembali ke masa kecilku, saat aku berusia 3 tahun?"
Hari ini, saat warna langit berubah jingga, tak sengaja aku membuka album foto semasa dulu.
Atmosfer kenangan masa kecilku menyeruak, memenuhi dinding kamar putri sulungmu yang sudah beranjak dewasa.
"Anakmu ini sungguh imut ya, Bu??" 
Menari, memegang buah ceri sambil tersenyum di pesta ulang tahun yang ketiga.
Bisa tidak, aku kembali menjadi manusia lugu nan polos seperti di foto itu?
Aku terlihat sangat senang dan bangga menggunakan gaun pesta berwarna orange.
Terima kasih ya, Bu.. 
Sudah selalu membahagiakan aku sedari kecil.

Kalau boleh aku bercerita, mungkin karena kenangan-kenangan masa kecil itu lah, yang membuatku bertahan hingga saat ini.
"Bu, mengapa dunia orang dewasa yang dulu aku kira bisa memberikan kebahagiaan yang lebih, begitu berbeda dengan yang aku bayangkan?" 
Duniaku kini telah berubah, menjadi sedikit rumit dengan bumbu-bumbu drama yang ku dapatkan dari manusia-manusia di sekelilingku.
Tak jarang, aku menghindari mereka. Manusia yang kadang sengaja atau tidak sengaja akan menyakitiku. Dan tak jarang, aku membenci sebagian dari mereka.
"Bu, bisa tidak semua manusia di bumi ini memiliki perilaku sepertimu?"
Yang selalu menjaga, menyayangi, mencintaiku dengan tulus, pun selalu menerima aku apa adanya.

"Menjadi dewasa itu menakutkan ya, Bu?"
Semakin bertumbuh, aku semakin takut dan benci dengan kegagalan, takut akan tersakiti, takut kehilangan serta takut akan perpisahan.
"Bu, mampukah engkau selalu ada menemaniku di dunia yang fana ini?"
Bisakah, Ibu tetap dengan perawakan yang seperti ini, tanpa menua sedetik pun?
Biar aku, yang tumbuh dewasa, biar aku yang menua. 
Agar seumur hidup aku selalu bisa melihatmu. Semoga semesta bisa mengabulkan keinginan absurd-ku ini ya, Bu.

"Bu, apakah punggung anak sulungmu ini mampu memikul setiap cobaan hidup yang ada?"
"Aku yang pertama kan ya, Bu?"
"Aku anak yang paling kuat dibanding adik-adikku kan ya, Bu?"
Maaf ya, Bu.. Jika sepertinya aku tak setangguh yang Ibu harapkan. 
Tak jarang, aku menyembunyikan tangisan yang menyedihkan itu. 
Tak sekali dua kali aku mengutuk sesuatu yang membuatku hancur dan kecewa.
Aku tak cukup kuat dan sabar untuk mengatasi kesakitan yang ku miliki, Bu.
Selalu aku berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang membahagiakan, tapi hingga detik ini, yang selalu aku dapatkan hanya kesakitan.

"Maafkan aku ya, Bu.."
Aku tak begitu pandai menjaga diri sendiri.
Acap kali hatiku tersayat oleh orang asing.
Seseorang yang ku anggap pangeran, ternyata ia hanya seorang manusia brengsek yang berani-beraninya telah menyakiti anakmu.
Entah seberapa dewasanya aku, tetap saja aku tak begitu pandai memahami maksud kedatangan seseorang di dalam hidupku.
Aku masih menerka-nerka, apa yang akan diberikan dan apa yang akan aku dapat dari dia (seseorang yang baru) di dalam hidupku.
Tapi Ibu tak perlu khawatir, biasanya saat aku sedang patah, aku akan bisa menyembuhkan lukaku sendiri.
Entah dengan cara apa aku pulih, entah butuh berapa lama aku untuk bangkit. 
Yang pasti, anakmu ini akan tetap bertahan dengan sayap-sayap cinta yang tersisa.

Ibu pernah berkata, berjalan dan bertindak dengan tuluslah engkau. 
Walau tak semua isi semesta bisa memberi hadiah yang manis kepadamu, setidaknya kau mampu menanam benih kebaikan untuk setiap orang yang kau temui.
"Bu, mengapa engkau selalu mengajarkan kebaikan, ketulusan, kejujuran kepada anakmu ini?"
Apakah Ibu tak mengetahui, jika seisi semesta ini nyaris menggila?
Setiap orang yang memberi kebaikan, ketulusan bahkan kejujuran, akan selalu kalah dan menjadi payah.
Ya, karena terkadang aku selalu bertemu dengan seseorang yang tak sepadan denganku.
Aku baik, dia jahat.
Aku tulus, sedangkan dia tidak.
Bahkan aku melahirkan kejujuran untuknya, sedang dia membinasakan aku dengan penuh kebohongan.
Haruskah aku menjadi seseorang yang sama jahatnya, seperti dia?
Aku merasa seperti orang yang bodoh, yang di olok-olok oleh mereka yang mencurangiku.

"Tapi, tenang saja ya, Bu.."
Meski kegetiran ini harus aku telan banyak-banyak, percayalah bahwa aku akan tetap berusaha menjadi aku.
Aku, anak sulungmu yang bertindak tegas namun tetap memiliki sisi lembut dan pemaaf.
"Aku tidak akan menjadi lemah, hanya karena memaafkan dia dan mereka kan, Bu?"
Jika di waktu yang lalu aku menyuarakan kutukan untuk mereka yang kurang ajar kepadaku, kini aku lebih memilih menyorakkan karma kebaikan untuk mereka, agar semua yang baik akan kembali kepadaku juga.
Satu persatu aku maafkan, satu persatu aku coba lepaskan, satu persatu sudah bisa aku relakan.

Bukankah, hidup tenang lebih sempurna dari pada hidup berbahagia?
Persis seperti yang Ibu katakan, suka dan duka takkan pernah kekal. Setiap waktu akan berganti, sesuai porsinya setiap kita yang hidup akan merasakan suka dan duka.
Tetapi jika jiwamu tenang, maka hidupmu akan abadi dalam kedamaian.
"Lantas, kapan aku bisa memanen ketenangan itu, Bu?"
"Harus berapa lama lagi aku menunggu ketenangan yang kekal itu datang ya, Bu?"

"Bu, mimpi-mimpiku akan terwujud kan, ya?"
"Aku tak akan selalu berhadapan dengan mimpi buruk kan ya, Bu?"
Aku percaya Tuhan teramat baik terhadapku & keluarga kita.
Aku meyakini kenyataan yang ada akan lebih baik dari apa yang ada di dalam impianku.
"Bu, tetap perhatikan anak sulungmu ini, ya.."
Kalau boleh aku memohon, "Bisakah Ibu tidak perlu risau perihal teman hidup untuk si sulung ini?"
Cepat atau lambat magis asmara itu akan datang menjemputku, di waktu yang tepat.
Dia akan menepati sumpah dan tak sekadar berjanji untuk selalu bersama anakmu dalam suka dan duka, tapi dia akan hadir di saat ini hingga waktu aku menua nanti, dia akan selalu ada. 

Akan ku pastikan, aku juga bisa memiliki seorang raja yang akan menjadikan aku sebagai ratu satu-satunya di hidup dan dunianya.
"Sama sepertimu kan ya, Bu?" 
Bapak yang selalu menjadikan Ibu sebagai ratu paling beruntung di jagat raya ini.
Bapak cinta pertama bagi anak sulungmu ini. aku beruntung memiliki kalian berdua di semesta yang (kadang) gersang dengan segala kisah yang mengejutkan.

"Bu, terima kasih ya.."
Ibu selalu menghangatkan saat duniaku begitu dingin dan kelam.
Engkau selalu memberi cahaya di setiap alur nadi dihidupku.
Untuk Bapak, "Terima kasih juga ya, Pak.."
Karena Bapak sudah menjadi seorang pria yang selalu siap menjadi tameng dan garda terdepan bagi keluarga kita. 
Terima kasih karena kalian telah berhasil menciptakan keluarga, sebagai tempat yang pantas untuk aku pulang. 
Sejauh kaki ini melangkah, sejauh apapun jarak yang ada, kalian adalah rumah terbaik & ternyaman tempatku berpulang.

"Janji, untuk hidup lebih lama & berumur panjang ya, Pak... Bu!" 
Aku masih ingin dan akan selalu ingin melewati lorong waktu bersama Ibu dan Bapak, mohon untuk tetap sehat, kuat dan bahagia.
Karena putri sulungmu ini masih berproses untuk memiliki hidup yang lebih baik dan lebih bahagia, dengan ketenangan yang hadir dari damai dalam dirinya. 
Jika hari itu telah tiba, tolong ikhlaskan aku untuk pergi berpetualang dengan pangeran yang kalian restui, ya..
Aku dan dia juga akan berjanji membangun istana yang kami idamkan selama ini.
Aku dan teman hidupku nanti juga akan bertumbuh dan bersama seperti kalian, berdua, beriringan serta memiliki buah hati yang menggemaskan.

"Selalu dan tetap merapalkan do'a bagi putri sulung dan anak-anakmu yang lain ya, Pak.. Bu."
Karena setiap kata dari do'a-do'a mustajabmu, akan selalu terdengar dan di dengar oleh sang Maha Kuasa. 
Aku bangga menjadi putrimu, Aku menyayangi Ibu dan Bapak, selamanya. ♡






Minggu, 12 Juni 2022

Yang Tak Seharusnya Dirindukan

Rindu (si)apa yang sedihnya paling kekal?
Bukan rindunya tanah tandus pada segerombolan hujan, sayang..
Juga bukan rindunya sebuah pohon pada hembusan angin.
Rindu mana yang memiliki jarak terjauh di muka bumi ini?
Rindunya seseorang yang diam-diam memelukmu dalam do'a.
Rindunya seseorang yang tak henti-hentinya membisikkan namamu dalam do'a.
Tak terlihat oleh mata siapapun, tak diketahui oleh siapapun.
Semenyiksa itu, merindukan seseorang yang tak selayaknya dirindukan.

Berjuta-juta kali sayatan kekecewaan hadir di hati, tak jua pudar rasa tulus mencintai ini.
Apa yang diharapkan dari seseorang yang penakut? 
Dari seseorang yang gemar bersembunyi dan menyembunyikan?
Entah mantra apa yang menutupi mata ini, sehingga masih saja dibutakan oleh rasa ingin memiliki.
Walau jelas tak ada upaya, memperbaiki atau mengobati, yang kau lakukan hanya mengucap maaf beribu-ribu kali. 
Tak setimpal dengan kekecewaan yang ku dapat, bukan?

Mencoba untuk singkirkan aroma rindu ini, acap kali aku berhasil, walau terkadang gagal dan terperosok dalam genangan kenangan yang kelam.
Tidak, tak seharusnya aku mengingat kebodohan yang pernah ada. 
Bagimu menyenangkan, membanggakan, sedang bagiku menyedihkan dan memalukan.
Bisakah aku menghilang dari semesta ini?
Atau jangan biarkan aku ditemukan oleh sosok sepertimu.

Merindukan setiap inci peristiwa yang pernah dilahirkan, sesak dalam dada pun tak dirasa. 
Aku merindukanmu dengan cara yang berbeda, aku merindukanmu bukan untuk dihadiahkan dengan pertemuan sakral.
Aku merindukanmu untuk pembelajaran hidup, bahwa cinta tak pernah terasa cukup.

Tak akan bisa sepasang manusia yang saling mencinta menjadi genap, bila tak sama-sama berkaca.
Coba tanya pada dirimu, mampu kah kau berupaya lebih untuk kebahagiaanmu dan orang asing yang kau inginkan hidup bersamamu selamanya?
Coba bicara dengan dirimu, berkaca pada cermin yang usang itu!
Mampukah kau meyakinkan dunia, untuk apa-apa yang menjadi sumber ketenangan dihidupmu?
Nyatanya, (aku) kau tak akan mampu. 
Entah tak mampu atau belum mampu, yang pasti kita sudah menjadi payah sejak awal.

Kini semua menempuh jarak terjauh.
Menyisakan teka-teki yang harus dipecahkan oleh hidup masing-masing.
Sebisa mungkin tak kembali, tak menoleh pada apa-apa yang berada dibelakang.
Walau arahmu sudah terbaca olehku, sedari awal kau hanya ingin singgah.
Tak sedikitpun membawa rasa sungguh dan tak berniat menjadikan ku, satu-satunya tempatmu untuk berpulang.

Aku terus bersusah payah, menyingkirkan semua bayang tentangmu.
Mengambil serpihan-serpihan hati yang masih bisa ku perbaiki sendiri, ini sungguh melelahkan!
Salahku yang tak bisa menjadi sepertimu.
Andai saja aku bisa sepertimu, yang bebas berlari dan melompat kepada jiwa-jiwa baru untuk menyembuhkan luka.
Untuk kali ini, kau hebat dengan segala skenario yang kau buat.
Tapi dilain hari, mungkin saja engkau yang akan menjadi aku.
Menjadi aku yang terlampau sungguh, pada sesuatu yang tak pernah menjadikanku utuh.



Selasa, 03 Mei 2022

Perbincangan Dini Hari

Seharusnya, sedari awal tak ku taruh harap selain pada-Mu.
Seharusnya aku tahu, sesuatu yang ku takutkan itu akan terjadi. 
Akan berakhir sama, persis seperti yang sudah-sudah.
Maaf, lagi-lagi aku lalai memenuhi perintah-Mu.
Lagi-lagi aku terbuai pada kebahagiaan yang semu.

Aku tahu kau benci jika aku menduakan-Mu.
Tak ada cinta dan kasih yang selalu ada dari saat aku menutup mata di malam kelam hingga membuka mata di pagi terang, selain cinta dan kasih-Mu.
Maaf, lagi-lagi aku bersimpuh dalam keadaan lemah tak berdaya.
Mengadu perihal keinginan yang tak sesuai, menangis dan menyesali kebodohan yang aku lakukan.

Di hadapan kemegahan kuasa-Mu, Tuhan...
Kembali ku katakan semua keluh kesahku, aku rindu berdialog dengan-Mu di dini hari seperti ini.
Heningnya malam, membuatku nyaman mengalirkan air mata.
Aku menangisi salah satu ciptaan-Mu, Tuhan...
Aku mendo'akan segala kebaikan untuknya.
Walau aku tahu, dia telah menyakitiku dan aku juga pasti menyakitinya.
Aku tetap merapalkan do'a-do'a magis untuknya.

Aku hamba-Mu yang lemah dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang aku miliki, aku bersimpuh pada-Mu, buatlah aku menjadi mudah.
Biarkan aku tenang dengan segala takdir-Mu, Tuhan...
Ku yakini, Engkau maha pemberi segala yang terbaik dan terpantas untukku.
Aku tahu, Engkau selalu menghindarkan aku dari segala sesuatu yang buruk.
Jika ini memang takdirku, mohon berikan jalan yang lapang. 

Ijinkan aku melepasnya karena-Mu.
Ijinkan aku melupakannya karena-Mu.
Ijinkan aku merelakannya karena-Mu.
Biarkan aku meleburkan segala perasaan yang ada.
Biarkan aku menyembuhkan segala lukaku yang menganga.
Biarkan aku berdiri pada diriku yang selalu lebih mencintai-Mu, Tuhan...
Jangan biarkan aku merasakan sakit pada cinta yang salah (lagi).

Terbangkan ia pada langit ingatan yang jauh dari pikiranku.
Simpan ia pada tempat di hatiku yang paling dalam, yang sulit ku jangkau.
Pelihara ia sebagaimana hamba yang Engkau sayang, Tuhan...
Bimbing ia untuk selalu berada di jalan-Mu.
Sehingga aku bisa dengan tenang meninggalkan segala apapun tentangnya.

Aku paham betul, seseorang yang Engkau datangkan padaku bisa saja menjadi ujian dalam hidupku.
Tapi jika boleh aku meminta, untuk yang selanjutnya, bolehkah Engkau datangkan seseorang yang tepat untukku?
Seseorang yang Engkau restui dan ridhoi hidupnya hanya untukku!

Jika yang selanjutnya, adalah seseorang yang tepat untukku.
Ijinkan kami untuk saling menemukan.
Pertemukan kami, dekatkan kami, persatukan kami karena-Mu, Tuhan...
Ijinkan kami menyempurnakan separuh agama kami. 
Permudah itu semua, Tuhan... 
Aku memohon dengan sungguh. 

Namun, jika aku tak pantas menerima hal itu dari-Mu.
Jika Engkau berkehendak, untuk maut datang lebih dulu kepadaku, mohon bawa aku dalam keadaan yang sebaik-baiknya dengan pengampunan dosa dari-Mu.
Aku terima semua takdirku, hanya Engkau penolong dan pelindungku.
Sang pemilik alam semesta, tak ada sesuatu yang mustahil bagi-Mu.
Aku percaya pada semua alur hidup yang Engkau beri untukku, wahai Ilahi robbi.




Kamis, 21 April 2022

Kamuflase

Bersembunyi jika memang kau merasa takut. 
Tak apa, aku takkan berbicara pada darat ataupun lautan.
Jika diam bisa membuatmu tenang untuk sementara, silakan untuk mematung sejenak.
Apakah, tujuanmu selalu berlari dari masalah yang ada?
Jangan berpikir, semua hal adalah sederhana.
Jangan pernah merasa kata "maaf" cukup untuk mengubah segalanya. 

Ya ... Lagi pula, apa yang bisa dilakukan oleh seseorang yang gemar berkamuflase?
Peranmu cukup hebat, ya? :')
Entah jiwa-jiwa lugu mana lagi yang sedang kau incar.
Entah siapa lagi yang akan menjadi incaran anak panahmu.
Di sini, tak sedikitpun aku melihat ke arahmu.
Aku berbalik, bertolak belakang jauh dari tempatmu berada.

Tapi entah, mengapa selalu ada suara-suara yang ramai, seolah mengumumkan segala baik dan burukmu?
Apa semesta sengaja, melakukan itu kepadaku?
Sepertinya aku belum diperbolehkan untuk rehat dari apa-apa tentangmu.

Kalau boleh seorang Puan ini bertanya, sedang apa kau di sana?
Masih sering bermain dan bersembunyi?
Apakah kau menikmati malam demi malam, waktu dimana kau merencanakan sesuatu?
Untuk kali ini, kamuflase apalagi yang akan kau lakukan?

Maap Tuan, untuk setiap pertanyaan lancangku terhadapmu.
Aku sudah cukup sadar diri, dengan semua kenyataan yang ada.
Kau tahu, aku sedang kembali menjadi aku.
Aku kembali bercerita, aku bernyanyi, aku menari, aku memeluk diriku lagi.
Aku terlahir kembali, menjadi seseorang yang mencintai diriku.

Kini, aku akan membuat masalah untuk semua hal yang ada disekitarku.
Aku takkan lagi memikirkan perasaan manusia yang lain.
Darimu aku belajar, untuk tidak menjaga perasaan seseorang. 
Karena untuk apa aku menjaga perasaan orang lain, sedang mereka (dan engkau) tak sedikitpun menjaga perasaanku.

Mulai detik ini, aku akan berkamuflase menjadi seseorang yang bodoh, yang berpura-pura tak mengetahui apapun.
Aku akan menjadi seseorang yang mati rasa. 
Aku akan menjadi pandai sepertimu, yang sangat betah dan nyaman berkamuflase.



Sabtu, 16 April 2022

Petuah

Konon katanya, lebih baik dicintai daripada mencintai.
Benarkah demikian?
Aku rasa tidak, nyatanya dicintai tak melulu membawa seseorang pada puncak kebahagiaan.
Karena, percuma jika kau hanya cukup dicintai tanpa diupayakan dan tidak diinginkan secara utuh.
Masihkah kau berbangga dengan dicintai oleh seseorang?

Yang bisa membuatmu tetap hidup dan merasa cukup hanya saling mencinta. 
Sejajar, setara, berkedudukan sama. 
Jika dua insan yang berbeda saling mencinta, mungkin saja energi semesta akan lebih mudah mempersatukan. 
Dan dua insan itu pun, akan berupaya saling melengkapi, saling menerima dengan sungguh tanpa ada kata tapi.

Pernahkah kau mendengar, seseorang bijak yang berkata "Dengan duka, kau akan lebih kuat dan menghargai suka".
Apakah untuk menjadi lebih kuat dan bisa meramaikan suka cita, aku harus terus menerus menimbun duka?
Harus melangkah, bertemu dan membuka hati untuk siapa lagi, agar aku bisa lebih kokoh dan kuat untuk menghadapi kekonyolan dunia?
Harus berapa luka lagi yang ku takar, hanya untuk mendapat suka cita yang abadi?

Katanya, kita abadi yang fana itu waktu.
Nyatanya waktu yang mengabadikan kefanaan perasaan yang ada.
Perasaan yang mengganggu, yang kadang datang di jam-jam sunyi saat purnama.
Sebuah rasa yang mengundang tawa, mengandung tanya dan tak jarang di akhiri dengan air mata.
Seandainya waktu bisa terulang, akan ku hapus semua ingatan yang payah ini.

Berkali-kali aku disuapi kalimat penenang.
Kata mereka "sembunyikan percintaanmu, agar terhindar dari si pengganggu".
Sudah kulakukan seperti apa yang mereka sarankan.
Tak berniat pula aku umumkan pada semesta, tentang apa-apa yang aku punya dan ku capai.
Sampai satu persatu bukti menyeruak, merusak pertahanan dinding kepercayaanku.

Nyatanya, mau disembunyikan atau dirayakan, seseorang pecundang akan selalu menjadi pecundang.
Si perusak yang merusak segalanya.
Oh, tak lupa juga seorang pengganggu akan selalu ada dan siap mencari celah pada hati si pecundang.
Mereka berbondong-bondong agar aku percaya pada cintaku.
Sedang cinta yang ku percayai ini, terus menerus menipuku.

Petuah mana lagi yang harus aku dengar dan ku lumat habis setiap kalimatnya?
Mereka hanya mampu berucap, tanpa mau melihat, mendengar dan menyelami apa-apa yang aku rasa.
Tapi mungkin aku masih beruntung, masih memiliki banyak orang yang memperhatikan setiap gerak gerik yang ku lakukan.

Tapi tolonglah, jangan memaksaku untuk selalu mendengar apa kata mereka.
Yang katanya "Merelakan akan membawamu pada ketenangan".
Seandainya semua cucu Adam dan Hawa ini mau mengerti, bahwa merelakan tidak sesederhana itu.
Merelakan tak semudah yang terucap.
Seperti aku yang sudah merelakannya, walau dengan luka yang masih menganga.

Jumat, 25 Maret 2022

Pupus

Merebah jiwa-jiwa yang lelah.
Luluh lantah di terpa nestapa.
Bahagia-bahagia sekadar asa.
Hati mati tak lagi kenal rasa.

Kekal hidup dalam ingatan.
Hancur jadi santapan kenyataan.
Memimpikan utuh untuk tumbuh.
Ternyata jatuh berkali-kali rapuh.

Terjerat rindu tak berujung temu.
Do'a-do'a magis tak terbendung.
Tangis berderai menandakan runtuh.
Terbata merapal kalimat yang sendu.

Seluruh tanya menjalar di pikiran.
Perihal lelaki di ujung tanduk.
Serta perempuan di paruh waktu.
Berbalik, berpisah, berbeda arah.

Asmara punah menjadi abu.
Di larung haru ke laut biru.
Semesta diam berkabung.
Sakralnya cinta kini telah terkubur.





Jumat, 18 Maret 2022

Patah Hati Terhebat

Kembali ku cermati kisah-kisah yang telah usang.
Mencoba mencari jawaban dari apa-apa yang pernah terjadi. 
Haruskah aku mengubur dalam-dalam semua rasa yang ada?
Mati-matian aku bertahan, aku basuh setiap luka agar segera pulih. 
Walau tak jarang, ku kembali terjerumus dalam lubang kenangan.
Menyepi lagi, menyendiri lagi, meratapi lagi. Entah, mengapa aku begitu gemar memeluk kenangan.
Membiarkan diri terombang-ambing, tersiksa saat mencoba melupakan sesuatu memori yang abadi.
Apakah ada yang peduli dengan kesakitan yang ku rasakan ini?

Perlahan tapi pasti, aku balut semua memar yang membiru, ku sayangi diri ini, agar hatiku semakin membaik.
Agar suatu saat nanti, bila aku bertemu dengan seseorang yang baru, aku akan siap dan bisa mengucapkan selamat datang dengan indah nan cantik.
Tapi sayang, semua itu tak mudah. Kembali ku berlari mengejar bayangmu yang semu. 
Tak ku temukan lagi, sosokmu di sana. Dimana sepasang mata sayu yang teduh itu berada?
Tak ku lihat lagi dirimu di sana. Tak ada yang menanti kedatanganku lagi, tak ada yang merindukan kehadiranku lagi.

Hilang, kataku.
Konon, sesuatu yang datang dengan mudah akan pergi dengan mudah juga. 
Mirip sepertimu, ya? :)
Dengan mudahnya datang, menyapa, merayu hingga memaksa.
Bodohnya aku, bisa-bisanya percaya dengan seseorang yang sangat asing sepertimu.
Ku persilakan engkau masuk, mengenalmu, memahamimu, membiarkanmu duduk di singgasana hatiku.
Sungguh payah, hanya sekejap kau beri kebahagiaan padaku. 
Setelah kau merasa cukup bersenang-senang, kau meninggalkan ku dengan mudah.
Tanpa perlu bimbang, perpisahan pun kau undang dengan penuh kebanggaan.

Katamu, dapat mengenalku adalah anugerah. 
Kau cukup bahagia karena pernah menghabiskan waktu bersama denganku. 
Tapi maap, tidak bagiku.
Bagiku, kebahagiaan yang kau berikan padaku tak sepadan dengan kesakitan yang kau beri.
Entah kenapa rasa sakit ini lebih banyak jumlahnya, dibanding bahagia yang kau beri padaku.
Mengapa waktu kita begitu sedikit?
Apakah aku tak pantas untuk menerima dan mendapatkan yang lebih darimu?
Mengapa aku harus merelakan (lagi), merasakan hidup yang payah dan kalah?

Aku kira, patah hati yang paling hebat adalah ketika kau mendapat penolakan dari seseorang yang kau cintai.
Aku kira, patah hati yang paling hebat adalah ketika kau tak bisa bersama dengannya, karena cara berdo'a yang berbeda, ketika Tuhan yang kau miliki berbeda dengan Tuhan yang ia miliki.
Ya, dahulu aku sempat mengira hal-hal seperti itu adalah suatu keadaan yang sangat menyakitkan.
Tahukah kau, bahwa kini ada kesakitan yang lebih hebat dari itu semua?
Kini aku sadar, ada yang lebih sakit dari itu semua. 
Kau tahu, tak ada yang lebih getir dari cinta yang dipaksa patah oleh keluarga. 
Patah hati yang paling hebat adalah penolakan dari keluarga. Ya, ini yang terhebat!

Ku mencoba menerima kenyataan.
Tenang, aku mencoba menghindar dari segala tentangmu. 
Aku bukan seorang perempuan jahat, yang membuat seorang anak lelaki menjadi orang asing untuk keluarga dan rumahnya.
Aku menyayangi dan mengasihimu dengan sungguh dan tulus. 
Tak apa, jika aku harus berteman dengan rasa sepi yang lirih ini.
Setidaknya, untuk sementara aku akan akrab dengan kesepian. 
Selama di sana kau tetap baik-baik saja, aku bisa merasa tenang.

Aku mengerti, tak mudah untukmu menghadapi semuanya. 
Aku tahu, kau juga merasakan (sedikit) kesakitan yang sama sepertiku.
Maap, karena aku begitu lihai berpura-pura menjadi kuat dihadapanmu. 
Maap, karena aku mencoba melepaskanmu lebih dulu.
Mungkin terlalu dini untuk kita saling mencinta, hingga terlalu dini kita berpisah, tanpa ada daya upaya untuk mempertahankan rasa cinta yang kita miliki.

Yang perlu kau tahu, aku mungkin perempuan yang lemah bagimu, yang (mungkin) begitu mudah kau raih.
Tapi kau juga harus tahu, bahwa aku bisa pergi. Di waktu yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya.
Aku pergi dan belajar merelakanmu, karena aku sadar, bahwa aku bukanlah pilihan.
Suatu saat, ku harap kau mengerti, bahwa aku adalah perempuan yang layak dicintai, yang pantas disayangi, yang bisa diterima tanpa syarat dan tanpa kata "tapi". 

Semoga arah yang baik akan segera datang, entah untuk kehidupanmu atau untuk kehidupanku.
Hingga waktu itu tiba, kita sudah berdamai dengan keadaan. 
Saat kau tak perlu terganggu dengan segala hal tentangku.
Dan aku tak perlu lagi tahu dan mengenang segala hal tentangmu.

Untuk kita yang sama-sama gegabah dengan perasaan, untuk kita yang sama-sama payah dalam mengakhiri perasaan.
Semoga Tuhan masih mengijabah setiap lantunan do'a, untuk kita hidup dengan kuat dan bahagia walau tak lagi bersama.



Minggu, 06 Maret 2022

Singkat

Ku mencoba menyelami pikiranku sendiri.
Berisik, banyak suara yang ikut campur perihal masalah yang satu ini. 
Haruskah aku diam atau haruskah aku ucapkan sumpah serapah pada keadaan yang menjengkelkan ini?
Otakku semakin lelah, seperti sudah putus asa dengan alur pikiran yang ada.
Terkadang, hati nurani ikut andil dalam mengambil keputusan. Tak melulu menggunakan si pintar logika.
Menyedihkan, bukan? Menjadi aku yang lebih lemah dan patuh terhadap kata hati.

Waktu terus berjalan, tak terasa aku hampir berada di ujung kisah.
Entahlah, apa aku bisa menceritakan ini pada semesta?
Entah, sebutan apa yang pantas ku berikan untuk kisah yang baru ini. Kisah yang menurutku tak semestinya ada.
Ah, kisah yang begitu singkat! 
Ya, kisah yang begitu singkat, julukan itu terdengar lebih pantas untuk kisah kita.

Entah apa maksud semesta, mempertemukan kita dengan begitu penuh kejutan.
Kau pasti tak pernah menduganya, kan? Sama, aku pun tak pernah menduga semua ini bisa terjadi.
Tapi, bukankah Tuhan selalu memberikan kejutan dan makna di setiap pertemuan sepasang insan?
Kejutan apa, yang kira-kira akan kau berikan untukku dan kejutan apa yang mungkin aku berikan untukmu?
Saat itu, kita masih menebak-menebak rahasia hidup yang ada.

Kita lalui, detik demi detik waktu yang ada.
Sapaan, candaan, sedikit sentuhan, kecemburuan dan pertikaian tanpa sadar (hampir) kita lumat habis.
Setiap malam yang sepi, kita memilih bercengkrama bertukar isi kepala & hati. Saling mengisi dan mengasihi.
Menghapus rasa ragu akan sesuatu, menyembunyikan rasa takut akan sesuatu, memeluk rasa rindu akan sesuatu.
Kita begitu pandai, menghabiskan waktu pemberian yang Maha Kaya.
Atau kita begitu bodoh dengan menghabiskan waktu bersama?

Tenang, aku tak akan membencimu.
Walau waktumu begitu singkat untukku, tapi aku harap rasa cintamu tak sesingkat itu.
Bisakah aku tetap mendapatkan itu? 
Cinta yang kekal, yang tak tergerus waktu. Cinta yang nyata, yang dimanapun kau berada, kau masih milikku.
Bisakah? ah, Tentu saja tidak bisa! Iya kan?
Dasar wanita bodoh, bisa-bisanya meminta pada seseorang yang ia sendiri saja tidak tahu dan tidak yakin atas pilihan hidupnya.
Hei, kalau boleh aku bertanya, siapa diantara kita yang paling bodoh?
Apakah aku atau dirimu?

Sisa-sisa rayuan masih ku ingat jelas. Kalimat yang teramat manis pernah terlontar dari bibirmu.
Sempat membuat hatiku penuh oleh ribuan kupu-kupu. Sesak yang begitu menyenangkan, yang sampai saat ini masih sempat aku rindukan.
Apakah kalimat magis itu, masih ada dan pantas untuk ku dapatkan (lagi)?
Tentu tidak, ya?
Setelah beberapa malam yang lalu, aku memilih untuk menyudahi kisah yang sebentar ini. Sekarang, mana bisa aku mendapatkan segala hal yang membahagiakan darimu?

Walau, kau selalu berusaha ada.
Menjelaskan apa-apa yang masih bisa kau perbaiki, berharap aku mengerti, berharap aku menerima perihal segala kesusahan dan kebimbangan yang kau miliki.
Ya, tanpa berpikir jernih, aku memilih menyendiri. Menepis kehadiranmu, menghindar dari segala sesuatu tentangmu.
Aku kembali memilih berteman dengan lirik-lirik melankolis dan buku-buku dengan kisah cinta yang lirih. 
Tak mau lagi aku mendengarmu, tak mau lagi aku bertemu denganmu.
Aku jahat, ya?
Tanpa sadar aku menghukum kita. Kita yang sekarang sama-sama saling meluka dan mencoba untuk melupa.

Tidak ada yang tahu, mengenai ujung kisah seseorang.
Untuk aku yang sempat terbuai olehmu, dirimu yang pernah berkata aku dan kamu akan bisa menjadi kita.
Sedari awal, aku sudah menyadari perihal kita yang hanya sekadar kata. Yang (mungkin) tak akan ada dan tak juga jadi nyata.
Miris ya?
Sesuatu yang berawal membahagiakan, mengapa harus di akhiri dengan kesedihan?

Untuk kisah yang sebentar ini, pantaskah untuk kita pajang di labirin ingatan?
Entah ingatanmu atau ingatanku.
Aku cukup bahagia dan senang bisa bertemu dan mengenalmu, cukup terpukau dengan sesosok manusia yang tak pernah ada dikhayalanku sebelumnya.
Aku senang dengan kehadiranmu, karena kau selalu menghadirkan banyak kembang api yang meletup letup di dalam dada. 
Bagaimana denganmu?
Apakah kau bahagia dan senang pernah memiliki cerita denganku atau kau hanya merasa biasa-biasa saja? 
Aku harap, kau tak menyesal pernah berhadapan dan mengurusi sebagian hidup wanita yang cukup payah ini. :')

Untuk awal yang berhadiahkan akhir, aku ucapkan terima kasih pada engkau yang sempat dan pernah ada.
Untuk sesosok orang asing, yang sempat menghadirkan irama-irama kebahagiaan yang cukup bising, sekali lagi ku ucapkan terima kasih.
Maap untuk setiap kata yang pasti pernah sangat menyakitkan, semoga kau bisa melupa dan hatimu perlahan-lahan bisa segera merasa teduh dan nyaman.
Tak perlu lagi kau merasa kesakitan yang terus menerus menyiksa hati, karena kau kini telah terbebas dari apa-apa tentang kita.
Semoga kelam tak lagi singgah di hatimu, semoga kasih bisa kembali hadir di hatimu.

Perihal aku, biarlah di sini (untuk saat ini) sendiri. 
Biar aku rapihkan kepingan-kepingan hati yang ada. Biar waktu yang menyembuhkan luka.
Tenang saja ... do'a-ku untukmu dan untuk kita masih sama. Semoga segera bisa kembali bahagia, entah masing-masing atau kembali berdua.
Semoga semesta masih mau memberikan kejutannya pada engkau dan aku dengan cara yang lebih indah dan bahagia.
Selamat berjumpa di ingatan masing-masing, semoga engkau tetap hidup dikelilingi kasih sayang dari semesta.

Sabtu, 26 Februari 2022

Kembali Sendiri

Permulaan, selalu penuh kejutan.
Kebahagiaan, riang menyeruak di sela-sela dada yang selama ini sesak.
Satu persatu jendela-jendela kecil dalam hati terbuka, tersinari cahaya baru yang sudah tak tahan untuk memasuki pelataran dan ruang hati.
Ketukan pintu pun, semakin sering terdengar.

Haruskah segera ku persilakan engkau untuk masuk?
Logika ku berkata "Jangan dulu. Untuk apa tergesa-gesa pada sesuatu yang baru?".
Ku tutup kembali hatiku.
Tapi sialnya, cahaya itu semakin terik. Semilir angin rindu pun mulai mengisi di sudut ruang hati yang sesak.
Ah, sial!
Hatiku berbisik, bolehkah ku persilakan engkau masuk?
Perlahan kau pun memasuki ruangan ini, tanpa rasa takut, penuh dengan rasa cinta yang kukuh.
Masuklah kataku, tapi hati-hati! 

Tahukah kau, sisi dari setiap ruang ini memiliki kisahnya sendiri.
Maap jika atmosfer di ruang hatiku tak semenakjubkan yang kau pikirkan.
Maklum saja, hati ini pernah memberikan segalanya, menyayangi, mengasihi dan mencintai dengan penuh tulus dan sungguh.
Walau yang didapat hanya semua hal yang membuat hatiku hancur dan rapuh.
Sejak saat itu, kubiarkan pelataran dan ruangan ini menjadi tempat yang sendu.
Sudah hampir tiga tahun kubiarkan hati ini rehat, tak perlu menyayangi, mengasihi dan mencintai yang lain, selain diriku sendiri.

Bolehkah aku bertanya padamu?
Apa tujuanmu untuk datang menemuiku?
Apakah kau akan betah berlama-lama tinggal di hatiku?
Apakah kau bisa menjaga dan merawat perasaanmu padaku, pun perasaanku kepadamu?
Apakah kau mampu, menghadapi badai yang terkadang datang untuk memporak porandakan hatiku dan hatimu?
Apakah kau akan tetap tegar untuk menetap atau hanya sekadar singgah tanpa rasa cinta yang tak lagi utuh?
Apakah engkau? Apakah engkau?!
Maap, begitu banyak suara di hatiku. Begitu bising terdengar, terutama saat purnama penuh berada di puncak malam.

Waktu terus berjalan, pasang surut perasaan kita pun semakin sering di uji.
Kau bilang, aku tak menaruh rasa percaya padamu.
Hai, Bung! Bagaimana aku bisa menaruh kepercayaan, sedang kau dengan jelas pernah menipuku dari belakang.
Kau bilang, aku tak pernah menyatakan cinta padamu.
Oh, haruskah seorang wanita pemalu ini berteriak ke penjuru dunia bahwa dia telah mencintaimu?
Tak cukupkah perhatian, pengertian, kasih sayang yang kuberikan untukmu, sebagai pernyataan cintaku padamu?
Atau haruskah kubisikkan lantunan-lantunan do'a untukmu yang selama ini kupanjatkan pada Ilahi?
Perihal kita berdua yang aku harap akan selalu menjadi kita, yang penuh kesetiaan memeluk cinta yang bahagia.

Ayolah, bisakah engkau lebih meyakinkan aku?
Haruskah aku memberikan kesempatan lebih padamu?
Semakin hari suasana semakin ribut, riang yang sempat riuh berubah menjadi takut yang kalut.
Akan hancur, kataku. Sedari awal, seharusnya aku menyadari.
Bagaimana bisa perasaan cinta dua insan ditutup-tutupi dari semesta dan seisinya?
Dasar bodoh, aku ikuti semua alur langkahmu.
Katamu, ayo melangkah, kita harus jalan bersama, kita bisa bersembunyi di sini, kita berlari sampai sana!

Aku yang sangat luluh kepadamu, mengikuti semua alurnya. 
Sampai di penghujung jalan, kau menemukan satu dinding yang kokoh. Yang tak bisa kau robohkan.
Awalnya, kau bersedia untuk merobohkan dinding penghalang itu.
Apakah bisa, ucapku?
Tapi semakin hari, semakin ku lihat kesakitan pada dadamu.
Bergemuruh nalar-nalar dipikiranmu, hingga akhirnya kau berkata "Kau boleh berhenti disini, kau masih bisa berbalik arah. Pulang ke tempat asal kita melangkah!"
Saat itu, aku menyadari bahwa kau telah menyerah dan aku telah kalah.

Terdiam, tak satupun kata yang sanggup ku ucap.
Hanya pertanyaan-pertanyaan penuh misteri yang ada di dalam pikiran, kacau balau setiap detiknya menghujani setiap labirin di pikiranku.
Kau menyerah? Aku harus kembali pulang sendiri?
Kau tak sungguh? Aku harus berusaha sendiri untuk sembuh?
Kau akan melupa? Aku harus mendapat dan memelihara luka?
Kau tak sengaja ingin berakhir? Sedang aku harus selalu siap menerima akhir?

Sungguh gila!
Bisa-bisanya aku membiarkan orang baru melukai hatiku.
Tentang engkau yang sejak pertama datang memberi sejuta harapan yang tak pernah ku harapkan.
Tentang engkau yang berani memaksa masuk, walau akhirnya aku harus menerima kenyataan yang buruk.
Tentang engkau yang sempat ku kira sebagai akhir yang takkan pernah berakhir.
Tahukah engkau, ruangan ini sekarang menjadi begitu sesak, rasa yang beterbangan semakin hari semakin pudar. Hilang terbawa angin lalu yang sendu.

Haruskah aku kalah (lagi)?
Kalah dengan keadaan yang sangat payah.
Kalah dengan perasaan yang sempat ada dan melimpah ruah.
Kalah dengan ego yang tingginya tak terarah.
Kalah dengan engkau, yang sebelumnya selalu ada, namun harus ku relakan.

Ku relakan engkau pergi menjauh.
Pergi meninggalkan apa-apa yang sempat kita impikan.
Pergi dengan memahat luka baru untukku.
Ku terima, ku pasrahkan segalanya pada semesta.
Tak lagi ku pedulikan engkau, ku coba untuk acuh pada segala hal tentangmu.

Lagi dan lagi, aku memeluk diri sendiri.
Memang, tidak begitu hangat dan teduh seperti sentuhanmu, tapi setidaknya aku berusaha untuk tetap tangguh.
Aku bisa apa? 
Selain menimang ingatan yang ada, selain memelihara kenangan yang ada, selain mencoba untuk tetap ramah dengan kesakitan yang ku punya.
Aku bisa apa?
Selain melihatmu pergi, memperhatikanmu dari kejauhan dan bersembunyi dari setiap bayangmu.

Pergilah, semoga engkau temukan tempat yang lebih istimewa.
Tempat yang mampu membuatmu menetap dan tinggal selamanya.
Tempat yang ku harap hangat, yang membuatmu selalu terbuai bahagia.
Aku masih di sini, memeluk diri sendiri. 
Semoga aku masih bisa memimpikan engkau, di setiap purnama yang ku punya.
Hingga suatu saat, aku kan melupakan luka yang ada. 
Hingga suatu saat, aku akan kembali bersinar dan aku akan dipertemukan oleh seseorang yang lebih tangguh dan lebih sungguh darimu.