Kamis, 21 April 2022

Kamuflase

Bersembunyi jika memang kau merasa takut. 
Tak apa, aku takkan berbicara pada darat ataupun lautan.
Jika diam bisa membuatmu tenang untuk sementara, silakan untuk mematung sejenak.
Apakah, tujuanmu selalu berlari dari masalah yang ada?
Jangan berpikir, semua hal adalah sederhana.
Jangan pernah merasa kata "maaf" cukup untuk mengubah segalanya. 

Ya ... Lagi pula, apa yang bisa dilakukan oleh seseorang yang gemar berkamuflase?
Peranmu cukup hebat, ya? :')
Entah jiwa-jiwa lugu mana lagi yang sedang kau incar.
Entah siapa lagi yang akan menjadi incaran anak panahmu.
Di sini, tak sedikitpun aku melihat ke arahmu.
Aku berbalik, bertolak belakang jauh dari tempatmu berada.

Tapi entah, mengapa selalu ada suara-suara yang ramai, seolah mengumumkan segala baik dan burukmu?
Apa semesta sengaja, melakukan itu kepadaku?
Sepertinya aku belum diperbolehkan untuk rehat dari apa-apa tentangmu.

Kalau boleh seorang Puan ini bertanya, sedang apa kau di sana?
Masih sering bermain dan bersembunyi?
Apakah kau menikmati malam demi malam, waktu dimana kau merencanakan sesuatu?
Untuk kali ini, kamuflase apalagi yang akan kau lakukan?

Maap Tuan, untuk setiap pertanyaan lancangku terhadapmu.
Aku sudah cukup sadar diri, dengan semua kenyataan yang ada.
Kau tahu, aku sedang kembali menjadi aku.
Aku kembali bercerita, aku bernyanyi, aku menari, aku memeluk diriku lagi.
Aku terlahir kembali, menjadi seseorang yang mencintai diriku.

Kini, aku akan membuat masalah untuk semua hal yang ada disekitarku.
Aku takkan lagi memikirkan perasaan manusia yang lain.
Darimu aku belajar, untuk tidak menjaga perasaan seseorang. 
Karena untuk apa aku menjaga perasaan orang lain, sedang mereka (dan engkau) tak sedikitpun menjaga perasaanku.

Mulai detik ini, aku akan berkamuflase menjadi seseorang yang bodoh, yang berpura-pura tak mengetahui apapun.
Aku akan menjadi seseorang yang mati rasa. 
Aku akan menjadi pandai sepertimu, yang sangat betah dan nyaman berkamuflase.



Sabtu, 16 April 2022

Petuah

Konon katanya, lebih baik dicintai daripada mencintai.
Benarkah demikian?
Aku rasa tidak, nyatanya dicintai tak melulu membawa seseorang pada puncak kebahagiaan.
Karena, percuma jika kau hanya cukup dicintai tanpa diupayakan dan tidak diinginkan secara utuh.
Masihkah kau berbangga dengan dicintai oleh seseorang?

Yang bisa membuatmu tetap hidup dan merasa cukup hanya saling mencinta. 
Sejajar, setara, berkedudukan sama. 
Jika dua insan yang berbeda saling mencinta, mungkin saja energi semesta akan lebih mudah mempersatukan. 
Dan dua insan itu pun, akan berupaya saling melengkapi, saling menerima dengan sungguh tanpa ada kata tapi.

Pernahkah kau mendengar, seseorang bijak yang berkata "Dengan duka, kau akan lebih kuat dan menghargai suka".
Apakah untuk menjadi lebih kuat dan bisa meramaikan suka cita, aku harus terus menerus menimbun duka?
Harus melangkah, bertemu dan membuka hati untuk siapa lagi, agar aku bisa lebih kokoh dan kuat untuk menghadapi kekonyolan dunia?
Harus berapa luka lagi yang ku takar, hanya untuk mendapat suka cita yang abadi?

Katanya, kita abadi yang fana itu waktu.
Nyatanya waktu yang mengabadikan kefanaan perasaan yang ada.
Perasaan yang mengganggu, yang kadang datang di jam-jam sunyi saat purnama.
Sebuah rasa yang mengundang tawa, mengandung tanya dan tak jarang di akhiri dengan air mata.
Seandainya waktu bisa terulang, akan ku hapus semua ingatan yang payah ini.

Berkali-kali aku disuapi kalimat penenang.
Kata mereka "sembunyikan percintaanmu, agar terhindar dari si pengganggu".
Sudah kulakukan seperti apa yang mereka sarankan.
Tak berniat pula aku umumkan pada semesta, tentang apa-apa yang aku punya dan ku capai.
Sampai satu persatu bukti menyeruak, merusak pertahanan dinding kepercayaanku.

Nyatanya, mau disembunyikan atau dirayakan, seseorang pecundang akan selalu menjadi pecundang.
Si perusak yang merusak segalanya.
Oh, tak lupa juga seorang pengganggu akan selalu ada dan siap mencari celah pada hati si pecundang.
Mereka berbondong-bondong agar aku percaya pada cintaku.
Sedang cinta yang ku percayai ini, terus menerus menipuku.

Petuah mana lagi yang harus aku dengar dan ku lumat habis setiap kalimatnya?
Mereka hanya mampu berucap, tanpa mau melihat, mendengar dan menyelami apa-apa yang aku rasa.
Tapi mungkin aku masih beruntung, masih memiliki banyak orang yang memperhatikan setiap gerak gerik yang ku lakukan.

Tapi tolonglah, jangan memaksaku untuk selalu mendengar apa kata mereka.
Yang katanya "Merelakan akan membawamu pada ketenangan".
Seandainya semua cucu Adam dan Hawa ini mau mengerti, bahwa merelakan tidak sesederhana itu.
Merelakan tak semudah yang terucap.
Seperti aku yang sudah merelakannya, walau dengan luka yang masih menganga.