Minggu, 06 November 2022

Sulung

Bahagia tak lagi sederhana bagiku.
Dulu, aku cukup bahagia meski hanya sekadar memiliki permen gula-gula yang memenuhi genggaman.
Aku juga sudah sangat bahagia kala itu, meski hanya sekadar memiliki balon warna warni yang masa hidupnya tak berlangsung lama. 
Satu persatu balon itu akan mengempis, karena jatah udara di dalamnya sudah habis.
Banyak hal-hal kecil, sepele bahkan tak begitu berarti, namun bisa membuat lengkungan indah di bibirku.
Aku yang dulu, begitu bahagia dengan hal-hal kecil yang remeh temeh. Begitu sederhana, bukan?

Masih terngiang, ucapan Ibu yang selalu memanggilku jika aku bermain terlalu jauh dari jarak pandang Ibuku.
"Hati-hati" katanya, 
"Pelan-pelan jalannya, jangan sampai jatuh, ya.." Ucapnya lagi.
Tak jarang, Ibu menggandeng tanganku, saat kami melewati beberapa jalan yang terjal.
Aku masih mengingatnya, setiap detail kejadian saat Ibu selalu ada untukku.
Baginya, aku adalah si Sulung yang sangat berharga. 
Puja puji selalu beliau lontarkan padaku, katanya aku sangat cerdas, aku sangat pandai memahami setiap hal baik yang Ibu ajarkan kepadaku.
Tapi menurutku, bukan aku yang cerdas, melainkan memang Ibu yang istimewa. 
Ibu adalah seorang guru yang serba bisa, teramat baik untukku, sabar dan penuh kasih sayang.

"Bu, bolehkah aku kembali ke masa kecilku, saat aku berusia 3 tahun?"
Hari ini, saat warna langit berubah jingga, tak sengaja aku membuka album foto semasa dulu.
Atmosfer kenangan masa kecilku menyeruak, memenuhi dinding kamar putri sulungmu yang sudah beranjak dewasa.
"Anakmu ini sungguh imut ya, Bu??" 
Menari, memegang buah ceri sambil tersenyum di pesta ulang tahun yang ketiga.
Bisa tidak, aku kembali menjadi manusia lugu nan polos seperti di foto itu?
Aku terlihat sangat senang dan bangga menggunakan gaun pesta berwarna orange.
Terima kasih ya, Bu.. 
Sudah selalu membahagiakan aku sedari kecil.

Kalau boleh aku bercerita, mungkin karena kenangan-kenangan masa kecil itu lah, yang membuatku bertahan hingga saat ini.
"Bu, mengapa dunia orang dewasa yang dulu aku kira bisa memberikan kebahagiaan yang lebih, begitu berbeda dengan yang aku bayangkan?" 
Duniaku kini telah berubah, menjadi sedikit rumit dengan bumbu-bumbu drama yang ku dapatkan dari manusia-manusia di sekelilingku.
Tak jarang, aku menghindari mereka. Manusia yang kadang sengaja atau tidak sengaja akan menyakitiku. Dan tak jarang, aku membenci sebagian dari mereka.
"Bu, bisa tidak semua manusia di bumi ini memiliki perilaku sepertimu?"
Yang selalu menjaga, menyayangi, mencintaiku dengan tulus, pun selalu menerima aku apa adanya.

"Menjadi dewasa itu menakutkan ya, Bu?"
Semakin bertumbuh, aku semakin takut dan benci dengan kegagalan, takut akan tersakiti, takut kehilangan serta takut akan perpisahan.
"Bu, mampukah engkau selalu ada menemaniku di dunia yang fana ini?"
Bisakah, Ibu tetap dengan perawakan yang seperti ini, tanpa menua sedetik pun?
Biar aku, yang tumbuh dewasa, biar aku yang menua. 
Agar seumur hidup aku selalu bisa melihatmu. Semoga semesta bisa mengabulkan keinginan absurd-ku ini ya, Bu.

"Bu, apakah punggung anak sulungmu ini mampu memikul setiap cobaan hidup yang ada?"
"Aku yang pertama kan ya, Bu?"
"Aku anak yang paling kuat dibanding adik-adikku kan ya, Bu?"
Maaf ya, Bu.. Jika sepertinya aku tak setangguh yang Ibu harapkan. 
Tak jarang, aku menyembunyikan tangisan yang menyedihkan itu. 
Tak sekali dua kali aku mengutuk sesuatu yang membuatku hancur dan kecewa.
Aku tak cukup kuat dan sabar untuk mengatasi kesakitan yang ku miliki, Bu.
Selalu aku berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang membahagiakan, tapi hingga detik ini, yang selalu aku dapatkan hanya kesakitan.

"Maafkan aku ya, Bu.."
Aku tak begitu pandai menjaga diri sendiri.
Acap kali hatiku tersayat oleh orang asing.
Seseorang yang ku anggap pangeran, ternyata ia hanya seorang manusia brengsek yang berani-beraninya telah menyakiti anakmu.
Entah seberapa dewasanya aku, tetap saja aku tak begitu pandai memahami maksud kedatangan seseorang di dalam hidupku.
Aku masih menerka-nerka, apa yang akan diberikan dan apa yang akan aku dapat dari dia (seseorang yang baru) di dalam hidupku.
Tapi Ibu tak perlu khawatir, biasanya saat aku sedang patah, aku akan bisa menyembuhkan lukaku sendiri.
Entah dengan cara apa aku pulih, entah butuh berapa lama aku untuk bangkit. 
Yang pasti, anakmu ini akan tetap bertahan dengan sayap-sayap cinta yang tersisa.

Ibu pernah berkata, berjalan dan bertindak dengan tuluslah engkau. 
Walau tak semua isi semesta bisa memberi hadiah yang manis kepadamu, setidaknya kau mampu menanam benih kebaikan untuk setiap orang yang kau temui.
"Bu, mengapa engkau selalu mengajarkan kebaikan, ketulusan, kejujuran kepada anakmu ini?"
Apakah Ibu tak mengetahui, jika seisi semesta ini nyaris menggila?
Setiap orang yang memberi kebaikan, ketulusan bahkan kejujuran, akan selalu kalah dan menjadi payah.
Ya, karena terkadang aku selalu bertemu dengan seseorang yang tak sepadan denganku.
Aku baik, dia jahat.
Aku tulus, sedangkan dia tidak.
Bahkan aku melahirkan kejujuran untuknya, sedang dia membinasakan aku dengan penuh kebohongan.
Haruskah aku menjadi seseorang yang sama jahatnya, seperti dia?
Aku merasa seperti orang yang bodoh, yang di olok-olok oleh mereka yang mencurangiku.

"Tapi, tenang saja ya, Bu.."
Meski kegetiran ini harus aku telan banyak-banyak, percayalah bahwa aku akan tetap berusaha menjadi aku.
Aku, anak sulungmu yang bertindak tegas namun tetap memiliki sisi lembut dan pemaaf.
"Aku tidak akan menjadi lemah, hanya karena memaafkan dia dan mereka kan, Bu?"
Jika di waktu yang lalu aku menyuarakan kutukan untuk mereka yang kurang ajar kepadaku, kini aku lebih memilih menyorakkan karma kebaikan untuk mereka, agar semua yang baik akan kembali kepadaku juga.
Satu persatu aku maafkan, satu persatu aku coba lepaskan, satu persatu sudah bisa aku relakan.

Bukankah, hidup tenang lebih sempurna dari pada hidup berbahagia?
Persis seperti yang Ibu katakan, suka dan duka takkan pernah kekal. Setiap waktu akan berganti, sesuai porsinya setiap kita yang hidup akan merasakan suka dan duka.
Tetapi jika jiwamu tenang, maka hidupmu akan abadi dalam kedamaian.
"Lantas, kapan aku bisa memanen ketenangan itu, Bu?"
"Harus berapa lama lagi aku menunggu ketenangan yang kekal itu datang ya, Bu?"

"Bu, mimpi-mimpiku akan terwujud kan, ya?"
"Aku tak akan selalu berhadapan dengan mimpi buruk kan ya, Bu?"
Aku percaya Tuhan teramat baik terhadapku & keluarga kita.
Aku meyakini kenyataan yang ada akan lebih baik dari apa yang ada di dalam impianku.
"Bu, tetap perhatikan anak sulungmu ini, ya.."
Kalau boleh aku memohon, "Bisakah Ibu tidak perlu risau perihal teman hidup untuk si sulung ini?"
Cepat atau lambat magis asmara itu akan datang menjemputku, di waktu yang tepat.
Dia akan menepati sumpah dan tak sekadar berjanji untuk selalu bersama anakmu dalam suka dan duka, tapi dia akan hadir di saat ini hingga waktu aku menua nanti, dia akan selalu ada. 

Akan ku pastikan, aku juga bisa memiliki seorang raja yang akan menjadikan aku sebagai ratu satu-satunya di hidup dan dunianya.
"Sama sepertimu kan ya, Bu?" 
Bapak yang selalu menjadikan Ibu sebagai ratu paling beruntung di jagat raya ini.
Bapak cinta pertama bagi anak sulungmu ini. aku beruntung memiliki kalian berdua di semesta yang (kadang) gersang dengan segala kisah yang mengejutkan.

"Bu, terima kasih ya.."
Ibu selalu menghangatkan saat duniaku begitu dingin dan kelam.
Engkau selalu memberi cahaya di setiap alur nadi dihidupku.
Untuk Bapak, "Terima kasih juga ya, Pak.."
Karena Bapak sudah menjadi seorang pria yang selalu siap menjadi tameng dan garda terdepan bagi keluarga kita. 
Terima kasih karena kalian telah berhasil menciptakan keluarga, sebagai tempat yang pantas untuk aku pulang. 
Sejauh kaki ini melangkah, sejauh apapun jarak yang ada, kalian adalah rumah terbaik & ternyaman tempatku berpulang.

"Janji, untuk hidup lebih lama & berumur panjang ya, Pak... Bu!" 
Aku masih ingin dan akan selalu ingin melewati lorong waktu bersama Ibu dan Bapak, mohon untuk tetap sehat, kuat dan bahagia.
Karena putri sulungmu ini masih berproses untuk memiliki hidup yang lebih baik dan lebih bahagia, dengan ketenangan yang hadir dari damai dalam dirinya. 
Jika hari itu telah tiba, tolong ikhlaskan aku untuk pergi berpetualang dengan pangeran yang kalian restui, ya..
Aku dan dia juga akan berjanji membangun istana yang kami idamkan selama ini.
Aku dan teman hidupku nanti juga akan bertumbuh dan bersama seperti kalian, berdua, beriringan serta memiliki buah hati yang menggemaskan.

"Selalu dan tetap merapalkan do'a bagi putri sulung dan anak-anakmu yang lain ya, Pak.. Bu."
Karena setiap kata dari do'a-do'a mustajabmu, akan selalu terdengar dan di dengar oleh sang Maha Kuasa. 
Aku bangga menjadi putrimu, Aku menyayangi Ibu dan Bapak, selamanya. ♡






Tidak ada komentar:

Posting Komentar