Minggu, 06 Maret 2022

Singkat

Ku mencoba menyelami pikiranku sendiri.
Berisik, banyak suara yang ikut campur perihal masalah yang satu ini. 
Haruskah aku diam atau haruskah aku ucapkan sumpah serapah pada keadaan yang menjengkelkan ini?
Otakku semakin lelah, seperti sudah putus asa dengan alur pikiran yang ada.
Terkadang, hati nurani ikut andil dalam mengambil keputusan. Tak melulu menggunakan si pintar logika.
Menyedihkan, bukan? Menjadi aku yang lebih lemah dan patuh terhadap kata hati.

Waktu terus berjalan, tak terasa aku hampir berada di ujung kisah.
Entahlah, apa aku bisa menceritakan ini pada semesta?
Entah, sebutan apa yang pantas ku berikan untuk kisah yang baru ini. Kisah yang menurutku tak semestinya ada.
Ah, kisah yang begitu singkat! 
Ya, kisah yang begitu singkat, julukan itu terdengar lebih pantas untuk kisah kita.

Entah apa maksud semesta, mempertemukan kita dengan begitu penuh kejutan.
Kau pasti tak pernah menduganya, kan? Sama, aku pun tak pernah menduga semua ini bisa terjadi.
Tapi, bukankah Tuhan selalu memberikan kejutan dan makna di setiap pertemuan sepasang insan?
Kejutan apa, yang kira-kira akan kau berikan untukku dan kejutan apa yang mungkin aku berikan untukmu?
Saat itu, kita masih menebak-menebak rahasia hidup yang ada.

Kita lalui, detik demi detik waktu yang ada.
Sapaan, candaan, sedikit sentuhan, kecemburuan dan pertikaian tanpa sadar (hampir) kita lumat habis.
Setiap malam yang sepi, kita memilih bercengkrama bertukar isi kepala & hati. Saling mengisi dan mengasihi.
Menghapus rasa ragu akan sesuatu, menyembunyikan rasa takut akan sesuatu, memeluk rasa rindu akan sesuatu.
Kita begitu pandai, menghabiskan waktu pemberian yang Maha Kaya.
Atau kita begitu bodoh dengan menghabiskan waktu bersama?

Tenang, aku tak akan membencimu.
Walau waktumu begitu singkat untukku, tapi aku harap rasa cintamu tak sesingkat itu.
Bisakah aku tetap mendapatkan itu? 
Cinta yang kekal, yang tak tergerus waktu. Cinta yang nyata, yang dimanapun kau berada, kau masih milikku.
Bisakah? ah, Tentu saja tidak bisa! Iya kan?
Dasar wanita bodoh, bisa-bisanya meminta pada seseorang yang ia sendiri saja tidak tahu dan tidak yakin atas pilihan hidupnya.
Hei, kalau boleh aku bertanya, siapa diantara kita yang paling bodoh?
Apakah aku atau dirimu?

Sisa-sisa rayuan masih ku ingat jelas. Kalimat yang teramat manis pernah terlontar dari bibirmu.
Sempat membuat hatiku penuh oleh ribuan kupu-kupu. Sesak yang begitu menyenangkan, yang sampai saat ini masih sempat aku rindukan.
Apakah kalimat magis itu, masih ada dan pantas untuk ku dapatkan (lagi)?
Tentu tidak, ya?
Setelah beberapa malam yang lalu, aku memilih untuk menyudahi kisah yang sebentar ini. Sekarang, mana bisa aku mendapatkan segala hal yang membahagiakan darimu?

Walau, kau selalu berusaha ada.
Menjelaskan apa-apa yang masih bisa kau perbaiki, berharap aku mengerti, berharap aku menerima perihal segala kesusahan dan kebimbangan yang kau miliki.
Ya, tanpa berpikir jernih, aku memilih menyendiri. Menepis kehadiranmu, menghindar dari segala sesuatu tentangmu.
Aku kembali memilih berteman dengan lirik-lirik melankolis dan buku-buku dengan kisah cinta yang lirih. 
Tak mau lagi aku mendengarmu, tak mau lagi aku bertemu denganmu.
Aku jahat, ya?
Tanpa sadar aku menghukum kita. Kita yang sekarang sama-sama saling meluka dan mencoba untuk melupa.

Tidak ada yang tahu, mengenai ujung kisah seseorang.
Untuk aku yang sempat terbuai olehmu, dirimu yang pernah berkata aku dan kamu akan bisa menjadi kita.
Sedari awal, aku sudah menyadari perihal kita yang hanya sekadar kata. Yang (mungkin) tak akan ada dan tak juga jadi nyata.
Miris ya?
Sesuatu yang berawal membahagiakan, mengapa harus di akhiri dengan kesedihan?

Untuk kisah yang sebentar ini, pantaskah untuk kita pajang di labirin ingatan?
Entah ingatanmu atau ingatanku.
Aku cukup bahagia dan senang bisa bertemu dan mengenalmu, cukup terpukau dengan sesosok manusia yang tak pernah ada dikhayalanku sebelumnya.
Aku senang dengan kehadiranmu, karena kau selalu menghadirkan banyak kembang api yang meletup letup di dalam dada. 
Bagaimana denganmu?
Apakah kau bahagia dan senang pernah memiliki cerita denganku atau kau hanya merasa biasa-biasa saja? 
Aku harap, kau tak menyesal pernah berhadapan dan mengurusi sebagian hidup wanita yang cukup payah ini. :')

Untuk awal yang berhadiahkan akhir, aku ucapkan terima kasih pada engkau yang sempat dan pernah ada.
Untuk sesosok orang asing, yang sempat menghadirkan irama-irama kebahagiaan yang cukup bising, sekali lagi ku ucapkan terima kasih.
Maap untuk setiap kata yang pasti pernah sangat menyakitkan, semoga kau bisa melupa dan hatimu perlahan-lahan bisa segera merasa teduh dan nyaman.
Tak perlu lagi kau merasa kesakitan yang terus menerus menyiksa hati, karena kau kini telah terbebas dari apa-apa tentang kita.
Semoga kelam tak lagi singgah di hatimu, semoga kasih bisa kembali hadir di hatimu.

Perihal aku, biarlah di sini (untuk saat ini) sendiri. 
Biar aku rapihkan kepingan-kepingan hati yang ada. Biar waktu yang menyembuhkan luka.
Tenang saja ... do'a-ku untukmu dan untuk kita masih sama. Semoga segera bisa kembali bahagia, entah masing-masing atau kembali berdua.
Semoga semesta masih mau memberikan kejutannya pada engkau dan aku dengan cara yang lebih indah dan bahagia.
Selamat berjumpa di ingatan masing-masing, semoga engkau tetap hidup dikelilingi kasih sayang dari semesta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar