Kamis, 12 Februari 2015

Dari Sang Pujaan

Untuk Perempuanku,

Maaf jika aku telah lancang mengirimkan surat ini, untukmu. Sejujurnya, aku sudah putus asa dengan keadaan kita saat ini. Berkali aku mencoba, acap kali aku gagal untuk bisa memahami semua inginmu.
Puan, bukankah selama ini engkau yang mencintaiku sampai mati?
Bukankah selama ini engkau yang selalu menanti?
Tapi, mengapa setelah  ku berikan kesempatan dan saat aku nyaris terjatuh ke dalam palung cintamu, tak sedikit pun engkau mempedulikan ku. Aku terabaikan.
Perasaanmu padaku tak sama lagi, tak seperti dulu.
Entah, ini hanya perasaanku saja atau memang benar ini adanya. Yang jelas, terima kasih telah menjadi pemuja rahasiaku (dulu). Terima kasih juga atas kebersamaan yang ada saat kita bersama meski tak selamanya.


                         Tertanda,


Yang pernah engkau cintai dengan sungguh
***

Haaah .. Jatuh cinta memang selalu seperti ini. Sedikit-dikit bahagia, sedikit-dikit bersedih, kadang pula sedikit haru mewarnai. Entah cinta itu merah muda atau apa, yang ku rasa disini hanya warna abu-abu. Seperti hati yang berdebu, lekat dengan pilu dan kelu. Tapi tak jarang, rindu memayunginya dengan teduh. Seolah hatinya utuh padahal berkali-kali dia telah runtuh, oleh sesuatu yang selalu membuatnya luluh.

***

Dulu, memang ku akui dirimu satu. Bahkan hingga kini, kau masih satu-satunya cinta dihatiku. Selamanya aku tetap mencintaimu, Tuan.
Meski begitu, terkadang kita tak bisa menjaga cinta itu. Menjaga seseorang yang kita cintai tak semudah menuliskan kalimat indah atau puisi romantis, Tuan.

Selamanya aku akan mencintaimu. 
Engkau tak perlu risau tentang perasaanku padamu yang mungkin (menurutmu) telah berubah. Sejujurnya, tak ada satu pun yang berubah. Tak ada satu pun yang sanggup mengubah cintaku padamu. Jika saja engkau tahu, yang ada malah cintaku yang semakin bertambah padamu.
Jadi, aku mohon. Buang jauh-jauh kerisauanmu itu. 

Engkau mengeluh Tuan, mengenai engkau yang tak bisa memahamiku. Mengenai engkau yang merasa gagal memenuhi setiap keinginanku. Ketahuilah Tuan, dari awal hingga nanti pun, aku tak pernah meminta engkau untuk bisa memahamiku.
Karena aku tahu, selamanya kau takkan sanggup memahamiku. Hanya aku saja yang sanggup Tuan, sanggup memahami apa-apa tentang mu.

Mengenai kegagalan yang kau rasakan saat memenuhi keinginanku. 
Memangnya, aku pernah menginginkan apa?
Apa yang ku inginkan darimu, Tuan?
Tidak ada. Dari awal hingga nanti pun, aku tak menginginkan apa-apa selain engkau. Seharusnya kau memahami tentang hal itu. Tak usah mengeluh, sampai asa yang kau taruh padaku menjadi putus.
Ah iya, aku lupa. Aku lupa karena dari awal kau tak pernah bisa memahami ku.

Maaf Tuan, karena aku tak mampu membantumu untuk bangkit dari keterpurukkan saat mencintaiku. Maaf aku tak bisa menyelamatkan mu, sungguh bukan maksudku untuk menghukum jiwa dan ragamu. 
Jujur, saat peristiwa itu, aku tak sanggup mengingat semua tentang kita. Aku terlalu takut membayangkan kesakitan yang kau rasa. Engkau harus merasakan sakitnya berpisah dengan seseorang yang saat itu (mungkin) mulai engkau cintai. Aku pun, Tuan. Aku juga merasakan kesakitan itu. Pilunya berpisah denganmu, yang selama ini aku sayangi.

Tapi, mau di apakan lagi?
Senyumku tak lebih berharga dari air mata Ibunda dan Ayahku. Mereka sangat berarti bagiku, sama seperti mu. Aku tak ingin melihat mereka kecewa karena tingkahku. Selama ini, mereka sudah dan selalu menuruti semua keinginanku. Wajar, jika sekarang mereka meminta ku untuk mengikuti keinginan mulia dari mereka. Menjodohkan dan menikahkan aku; anak perempuannya, dengan seorang lelaki yang mereka anggap pantas untuk membahagiakan ku.

Sekali lagi maafkan aku, Tuan ...
Seandainya saja bisa, andai saja aku cukup berani untuk melawan keinginan mereka. Menepis semua perkataan mereka dan mempertahankan hubungan kita hingga akhir. Tapi Tuan, perempuan yang mulai renta itu berkata, lebih baik dicintai dari pada mencintai. Mungkin itu benar, tapi yang aku inginkan adalah bisa mencintai dan dicintai oleh seseorang yang aku cintai.

Mencintai dan dicintai. haah, tak kutemukan itu saat bersamamu, Tuan.
Engkau tahu aku salah satu dari sekian banyak kaum hawa yang pernah mencintaimu secara diam-diam. Yang beruntung bisa menjadi seseorang yang berarti didalam hidupmu. Meski kau mencintaiku saat aku telah menjauh dan mulai meninggalkanmu. 
Bagaimana rasanya, mencintai seseorang yang sudah jauh meninggalkanmu, Tuan?

Tuan, perempuan yang mulai renta itu mengetahui sesuatu tentang engkau. Baginya engkaulah sumber kesedihan dari tiap tetesan air mata anak gadisnya. Ia cukup membencimu, Tuan. Padahal, aku telah mencoba menjabarkan tentang betapa sempurnanya engkau, betapa berartinya engkau, dan betapa bahagianya aku saat bersama dan bisa memilikimu walau sementara.

Lagi dan lagi, Tuhan mengujiku dengan segala masalah yang ku terima. Aku harap engkau kuat, disana. Engkau sempurna layak untuk bahagia, bersama ataupun tak bersama aku disisimu. Lagi pula, cintamu padaku tak sebesar cintaku padamu. Bukan begitu, Tuan?
Jadi aku rasa, kepergianku hanya masalah kecil bagimu. Hanya batu kerikil yang segera bisa kau singkirkan dari hidupmu.

Terima kasih Tuan, atas kejutan yang kau hadirkan. Untuk kali pertama, aku mendapatkan surat dari engkau, sang pujaan hatiku. Tak seperti dulu, biasanya engkau yang menerima surat berisi kekaguman ku padamu. Senang rasanya mendapat surat darimu, meski isi dari surat itu sama sekali tak pernah aku harapkan. Tapi maaf, aku tak bisa membalas surat pertamamu. Aku sudah harus memulai lembaran baru. Tak ada lagi engkau yang membayangi hidupku. 

Bukan maksud untuk mengacuhkan mu, Tuan.
Tapi memang ini yang harus aku lakukan. Kuatlah Tuan, jalani hidupmu seperti biasa, seakan tak ada sesuatu yang terjadi padamu. Aku pun, mencoba kuat disini.
Jangan tanya bagaimana aku sanggup menjalani ini semua. Jangan!

Ini semua berkat perempuan yang mulai renta itu; Ibundaku. Selama ini, beliau yang menemani dan membasuh air mataku saat aku merasakan sakit karena cinta yang tak terbalas olehmu. Perempuan inilah yang mengajarkan aku tentang kekuatan. Dulu aku kuat mencintaimu dalam diam dan kini aku kuat meninggalkanmu dalam diam. 
Meski sempat cintaku bersambut denganmu, kuasa Ilahi berkehendak lain. Hanya sebentar aku bisa bersama dan menemanimu. Tapi percayalah, engkau tetap lelaki yang masih aku inginkan dalam do'a meski nanti aku harus mengarungi hidup bersama lelaki yang lain.

***

Ketahuilah, sebesar dan sekeras apapun perjuanganmu untuk hidup bersama seseorang yang kau inginkan, semua itu takkan bisa melawan kehendak-Nya yang benar-benar mengetahui apa yang memang pantas dan mampu membahagiakan kehidupanmu.

12 komentar:

  1. nice post (y)
    http://ilhamabdii.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Sedikit menghilangkan penat dengan tumpukan aksara yang tersusun rapi dalam suratmu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih karena selalu berkunjung. Ribuan kata ini tak lebih bagus dari ribuan kata yang kamu buat. :)

      Hapus
  3. Surat bagus hari ini. Entah beneran atau tidak, semoga si perempuan dan laki2 sama-sama memilih jalan yang benar. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung.
      Dan jalan yang benar tak selalu jalan yang lurus, bukan? :)

      Hapus
  4. kalau sudah ke hendak nya, hal yang mustahil pun bisa terjadi hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul!
      Semua terjadi atas kehendak-Nya.
      Terima kasih sudah berkunjung :)

      Hapus
  5. Terima kasih sudah berkunjung :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama. main kesini http://lintassenja.blogspot.com/ mbak :D

      Hapus
  6. Oke, beri sambutan ya .. saya akan berkunjung :))

    BalasHapus