Rabu, 04 Februari 2015

Pertemuan

Pertemuan.
Maaf, aku tak bisa dengan lantang menceritakan tentang semua. Semuanya tentang kita, yang bertemu dengan tak sengaja, yang berpisah dengan tak terduga. Engkau pun tahu, semua terjadi begitu saja. Tanpa sempat kita kendalikan. Jangankan untuk dikendalikan, untuk mencoba mengendalikannya saja kita tak mampu.

Ya, siapalah kita? 
Kita hanya tokoh yang memerankan karakter masing-masing, yang memerankan takdir yang sudah di gariskan oleh Sang Penguasa Semesta. 
Mungkin memang ini yang pantas untuk kita jalani. Kita berjalan di alur yang berbeda. Yang tak pernah menemukan ujung untuk bersatu kembali. Jalan kita berbeda, bukan?
Biarlah, semoga itu jalan terbaik.

Tak banyak kenangan yang bisa ku simpan, tak banyak pula kenangan yang bisa kau berikan. Mungkin itu sebabnya, masing-masing di antara kita memilih untuk melupa.
Entah melupakan suka yang masih memilih untuk ada. Entah melupakan luka yang sampai sekarang masih menganga. Pertemuan dan perpisahan itu selalu berpasangan, bukan?
Tapi, mengapa kita tak berpasangan?

Melupakan itu takkan pernah mudah, meski berkai-kali kau mencoba untuk merelakan. Sama seperti ku, yang hingga kini masih berusaha keras melupakan mu dengan cara merelakanmu.
Merelakanmu pergi begitu saja, merelakanmu untuk menyerah begitu saja, merelakanmu untuk hilang begitu saja. Tanpa sempat mempedulikan keadaan ku disini.

Tapi tak mengapa, disini aku mencoba untuk tangguh. Aku memilih untuk bertemu dan memulai semuanya dengan seseorang yang baru. Yang mungkin akan bisa mewujudkan impianku untuk berada di pelaminan. Menjadi ratu dan raja sehari, setelahnya kami akan menjadi sepasang kekasih yang biasa yang memiliki sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang luar biasa, yang bisa kami pamerkan pada semesta. Meski, entah kapan keinginanku itu bisa terwujud. Setidaknya, aku sudah berani mengenal seseorang yang baru.

Perihal tentang mu, yang tak bisa aku jelaskan. Perpisahan yang merenggut semua diantara kita, selalu ku ingat sekaligus ku benci. Sama seperti mu, yang (mungkin) akan selalu ku ingat tanpa pernah bisa ku benci. Pertemuan yang singkat dengan perpisahan yang cepat, memberikan makna tersendiri bagi kita. Tak usah persalahkan waktu, tak perlu mempermasalahkan apa-apa tentang aku dan kau, yang dulu pernah bertemu dan bersatu.

***

#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-6
For The First Time In Forever, 
"Melalui surat yang akan dikirim dan disebarkan melalui lini masa, semoga engkau membuka dan membacanya. Bagi seseorang yang pernah pergi tanpa berjuang. Bagi seseorang yang pernah menyerah tanpa berusaha."

6 komentar:

  1. Semangat nulisnya, Kak. Awesome!!! :D

    http://www.cewealpukat.me/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat juga buat kamu, cewek alpukat. Terima kasih sudah berkunjung :)

      Hapus
  2. Pasti bisa mengikhlaskan kak. Semangat ya :)

    BalasHapus
  3. Selamat menulis program surat cintanya X)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih fandhy, terima kasih sudah berkunjung :)

      Hapus