Jumat, 20 Februari 2015

Tinggalkan Cintamu

Kau tahukan, sudah berapa lama aku berlapang dada dengan keadaan ini. Mungkin, kau juga tahu betul mengenai penantian ku selama ini. 
Engkau berkata, takkan ada yang sia-sia di semesta ini. Tapi aku mulai meragu dengan percintaan ini, dengan kisah kita, terutama denganmu yang hingga sekarang belum juga menanggalkan hubungan dengan kekasihmu itu. 
Kau tahukan, bahwa aku adalah seorang pencemburu yang egois. Lalu, mengapa hingga sekarang kau belum mencampakkan kekasihmu itu. Apakah kau tidak memperhatikan kesakitanku selama ini? 
Sungguh, aku rasa penantian ku selama ini 'kan menjadi sia-sia.

Atau mungkin kau telah terlanjur mencintainya, hingga tak bisa meninggalkannya.
Padahal, kau tak perlu cemas jika harus berpisah dengannya. Karena meski kau tak lagi mendapatkan cinta darinya, engkau masih bisa mendapatkan cinta yang (mungkin) lebih tulus dariku. 
Bukankah, engkau sendiri yang mengatakan ingin meninggalkan semua kenangan dengannya?
Jadi, kapan kau merasa siap untuk datang kepadaku?
Jangan mengulur-ngulur waktu. Ingat, aku juga perempuan, sama seperti perempuanmu itu yang sangat membutuhkan kepastian.
Katakan padaku, harus berapa lama lagi aku menanti?
Akan ku cari cara untuk membuatnya menjauh dan melepaskan dirimu dari kehidupannya. Lihat saja nanti!

Apakah engkau masih ingat, mengenai janji yang kau ucapkan kepadaku tempo hari?
Katamu, kau akan segera memutuskan hubungan dengannya. Katamu, kau akan segera mengubur semua kenangan saat bersamanya. Katamu, kau akan segera mendatangiku untuk membawaku ke singgasana pelaminan itu. 
Kau ingat tidak, tentang semua -katamu- yang ku iyakan, yang ku harapkan sekaligus ku aminkan. 
Demi Tuhan, aku selalu menantikan saat kedatanganmu tiba.
Aku cukup mengenalmu, bertahun-tahun kita bersama meski terbentang jarak. Tak satupun yang bisa kau sembunyikan dariku, begitu juga aku. 
Lalu, perihal apa yang membuatmu masih berpikir untuk tetap bersamanya hingga sekarang?
Bukankah, perempuanmu itu tak selalu memahamimu? 
Ayo, sudah saatnya untuk meninggalkan dia!

Entah, ini cinta yang benar atau salah. Kita menumbuhkan cinta lainnya di atas cinta yang telah ada. Sembunyi-sembunyi, kita memupuk dan merawat cinta ini. Mengharapkan dan membiarkan cinta yang lama itu layu, mati dan hilang terbawa angin. Sejahat itukah cinta?
Sehingga semua pantas dan layak untuk dilakukan demi merebut dan mempertahankan cinta yang menurut kita sangat layak kita miliki, sampai membuat cinta orang lain itu mati.
Aku tahu, tak seharusnya aku menantimu. Tak seharusnya aku mengharapkan kehancuran pada cinta yang dimiliki perempuanmu itu. Tapi kau kan tahu sendiri, tabiatku seperti apa. Tak mudah untukku melepaskan sesuatu yang ku inginkan, tak mudah bagiku untuk membiarkan seseorang pergi dari hidupku tanpa memenuhi janjinya. Seperti engkau yang berjanji untuk menjadikanku yang terakhir bagi hidupmu.

Aku, tak mau bertele-tele lagi. Aku sudah cukup tegar melihatmu dengannya. Aku sudah cukup berjuang untuk mempertahankan dirimu. Sudah cukup banyak yang kita korbankan. 
Kini, giliranmu untuk mewujudkannya dan menentukan hati. Untuk apa kau mengucap janji, jika hanya untuk di ingkari. Untuk apa aku menanti, jika hanya untuk di abaikan. 
Sekarang, ku tagih semua ucapanmu. Ucapan mengenai niatmu untuk meninggalkan cintamu demi aku. Demi aku, perempuan lain yang selama ini engkau idam-idamkan. Segera temui aku, ku pastikan kebahagiaan kekal berada disampingmu.

2 komentar:

  1. Balasan
    1. semua juga akan merasa bosan saat menanti.
      Terima kasih sudah berkunjung :)

      Hapus